Di Balik PemiluKaDa

by Senjakala Adirata


Pagi saya pergi ke pasar mengantarkan kedelai rebus untuk dijual. Setelah itu pulang dan singgah di warung untuk beli gorengan, sembari ngobrol dengan bekel (kepala dusun). Tak lama kemudian seseorang yang kami kenal datang dan bertanya pada teman ngobrol saya “pak mu kerjo pora?” (bapakmu kerja apa tidak?) teman saya menjawab “yo ora Kang, menghormati sithik pemilu” (ya tidak kang, menghormati sedikit perayaan pemilu). “O” kata orang tadi. “Nopo kang?” (kenapa Kang) Tanya temen saya. “ora ono ijole tak kiro yo kerjo kan ra popo!” (tidak ada “nilai tukarnya” kan kerja ya tidak apa-apa!). Saya dan teman saya langsung senyum mengerti maksudnya. Senyum sinis sebenarnya.

Itulah percakapan singkat yang menurut krupukCair, akan sedikit jabarkan pada postingan kali ini. Pada saat KrupukCair membuat tulisan ini, penghitungan suara di tiap TPS di kabupaten Semarang mungkin masih berlangsung dan mungkin baru saja dimulai. Jelas, percakapan diatas ada sangkut pautnya dengan PemiluKaDa yang sedang berlangsung di Kab. Semarang. Tiga calon Bupati yang gambarnya dalam bulan2 lalu telah mondar-mandir di sudut2 kota bahkan desa-lah yang menjadi pilihan masyarakat untuk dipilih.

Kata orang yang datang ketika kami ngobrol tadi,” tidak ada ‘nilai tukarnya’ kan kerja ya tidak apa-apa”. Maksudnya seperti ini, orang tadi sedang mengerjakan untuk menyelesaikan bangunan rumah yang tepat di depan rumah saya. Bayarannya mungkin sekitar 30ribu sehari. Ketika libur sehari, maka dia akan rugi sementara dia tidak punya kepentingan yang begitu penting menurut dia pada hari ini. Dan ‘tidak ada nilai tukarnya kerja kan ya tidak apa-apa’. Maksud nilai tukarnya adalah tidak ada calon bupati yang memberikan ‘sogokan’ uang untuk memilih sehingga jika bekerja pada hari ini tentu dia akan tetap dapat bayaran. Dan karena ada pemilukada, dia harus libur sedang dia tidak ada pemasukan.

Terpaksa krupukcair katakan, pendidikan politik bagi masyarakat begitu tidak sehat. Cara berpikir masyarakat sekarang pendek mengenai masa depan. Tidak ada uang tidak pilih, ada uang baru pilih, adalah hal yang sangat ironis dan kritis jika kita menginginkan negeri ini sempurna dalam Demokrasi. Percakapan diatas apakah bisa dijadikan acuan secara kolektif masyarakat Indonesia? Bagi saya, bisa. Sebenarnya saya mendapati percakapan yang senada seperti diatas tidak Cuma dari seorang saja tetapi mungkin sudah lebih 10 orang di dusun saya yang terpencil di Kab.Semarang berkata se-irama.

Tidak pilpres, tidak pileg, tidak pemilukada, tidak pemilihan kades (kepala desa) sampai pemilihan kadus (kepala dusun) semua menggunakan cara yang sama.
U A N G.
Seakan tidak ada cara lain yang ampuh untuk mencari simpati masyarakat. Uang seakan menjadi Tuhan dan bisa merubah segala di dunia ini. Sangat naïf, najis dan sangat menjijikkan sekali bagi krupukcair jika cara seperti diatas tetap dilestarikan. Masyarakat tidak semakin pandai memandang masa depan tetapi sebaliknya, malah semakin bodoh karena cara pandang mereka menjadi sempit dan pola pikir mereka menjadi pendek dengan pendidikan politik yang sangat kotor ini.

Entah bagaimana lagi saya mau menulis, saya cukupkan sampai disini. Bagi para politikus, saya harap tidak usah membaca tulisan ini karena krupukcair takut kalian tersinggung. Untuk menutup tulisan kali ini, saya ingin menulis : KAMI BISA HIDUP TANPA KALIAN TAPI KALIAN TIDAK BISA HIDUP TANPA KAMI..!!!!! STOP MEMBODOHI MASYARAKAT DENGAN CARA-CARA BODOH….!!!!

gambar dari sini