Pelajaran Dari Mas Tukul

by Senjakala Adirata


Saya suka dengan beberapa acara Talk Show di televise, salah satunya adalah Bukan Empat Mata. Saya yakin sebagian besar masyarakat akrab dengan host acara tersebut. Yupz, Tukul Arwana. Bagi sebagian kecil orang, mungkin ada yang tidak menyukai acara ini dikarenakan banyak percakapan yang “tak berbobot” atau lebih mengedepankan humor belaka. Tapi tahukan teman2 bahwa semakin ‘gila’ manusia2 sekarang dengan segala aktivitasnya semakin suka dengan hiburan humor seperti ini?

Saya adalah orang yang tidak bisa melawak, tapi suka dengan lawakan. Semenjak SMP sampai kuliah sekarang, saya senang dengan teman yang suka melawak. Mereka memberi hiburan gratis bagi saya saat setumpuk tugas dari Dosen menjejal di atas meja belajar saya. Namun, tulisan kali ini bukan saya mau memberi tulisan humor atau lawakan melainkan saya megutip perkataan “Host Fenomenal” Mas Tukul Arwana yang menurut saya penting untuk di bagi.

Pada beberapa “celotehan” Mas Tukul, saya terpana ketika Mas Tukul bilang “saya bukanlah orang pengumbar maaf!”. Wow, bukankah kita manusia sangat dianjurkan untuk meminta maaf? Sabar dulu sobat, lanjutan dari “celotehan” beliau adalah “maaf, saya terlambat karena macet, maaf saya tidak bisa berangkat karena anak saya sakit, maaf saya tidak bisa hadir karena saya meriang” Yupz, ini dia lanjutannya. Beliau tidak mau mengumbar maaf karena beliau melakukan kesalahan yang sebenarnya bisa di-akal-i. Bagaimana beliau tidak terlambat kerja, harus bangun lebih pagi, bangaimana beliau mencintai pekerjaannya beliau harus tetap bertanggung jawab terhadap gaji yang telah di berikan kepadanya dan bagaimanapun beliau hanya sakit meriang dan yakin bisa membawakan acara sebagai Host Fenomenal, beliau akan memaksakan diri karena ribuan bahkan jutaan penggemarnya telah hadir di depan televisi untuk melihatnya. Yah, itulah pengakuan beliau dalam acara—kata Mas Tukul—Not Four Eyes yang di tonton di seluruh dunia.

Hal ini adalah masalah tanggung jawab antara hak dan kewajiban. Dan jangan pernah bersembunyi di balik perkataan maaf saat melakukan kesalahan dalam hal keterlambatan kerja. Kita sudah tahu bahwa Jakarta adalah kota yang mana macet menjadi santapan sehari-hari. Terus bagaimana agar kita tetap bisa berangkat tepat waktu, maka kita harus bangun lebih awal. Meski dari beberapa opini masyarakat, Jakarta semakin tidak nyaman karena macetnya, namun itu tidak terus bisa dijadikan alasan langganan. Yang tadinya sebenarnya bangun kesiangan dan terlambat pergi bekerja, kemudian beralasan “maaf, mecet”.