Gedung Kematian

by Senjakala Adirata


Kemarin aku lari dan sembunyi dari gedung ricuh penuh amarah. Berlari mendekati tungku yang di balut dengan untaian Pisang dan bunga-bunga api. Bersama para sengsara melayani orang-orang yang terikat oleh ikatan pendidikan yang akan menghasilkan selembar kertas penuh kepalsuan.

Tersenyum sembari mendengarkan keluh kesah hatiku yang rindu akan sinar rembulan. Sinar yang memancar penuh dengan keteduhan dan kejujuran namun menyembunyikan penderitaan akibat keganasan cinta orang tuanya.

Kemarin aku melukis di alam khayalan. Menorehkan tinta hitam dan merah membentuk bola-bola salju yang akan menghancurkan segala kemunafikan. Mewarnai gunung-gunung imajinasi dengan peluh yang semakin membanjir. Menanti kabar dari perkumpulan orang-orang yang diskusi masalah moral. Yang memberontak hingga kelewat batas dan dipermasalahkan, sampai menerima ancaman dan tekanan.

Hari ini aku menopang dagu. Melihat dan mendengar mereka bercerita tentang orang-orang yang saling-silang fatwa. Antara fakta dan realita yang masih abu-abu. Dengan diringi dentingan gelas berisi campuran air bening yang melepaskan dahaga dan melenyapkan kantuk dan emosi.
Sungguh manusia telah terjebak oleh akal culas mereka. Apakah nama itu begitu penting hingga harus berdebat masalah akhlak? Apakah suara hitam dari anak kecil mengotori simbol penanda mereka agar tidak salah saat dipanggil. Apalah arti dari sebuah nama. Jika kelapangan hati dan kerelaan membumbung tinggi terbang bersama kupu-kupu yang penuh warna-warni, maka hati tak akan terbolak-balik hanya karena amarah sesaat yang hanya akan berbuntut saling merendahkan dan menyombongkan kelebihan.
Namun cinta tetaplah cinta. Dan dusta tetaplah dusta. Dan benci tetaplah benci. Dan dendam tetaplah dendam.

Gedung yang penuh dengan cinta harta, cinta ilmu, cinta dunia. Gedung yang penuh dengan dusta, dusta perkataan, dusta balutan pakaian, dusta jabatan, dusta didikan. Gedung yang penuh dengan benci, benci kesombongan, benci kemapanan, benci keteraturan. Gedung yang penuh dengan dendam, dendam yang membara karena iblis telah memenangkan pertarungan dan mengalahkan para manusia-manusia yang bodoh dan bebal akan kesadaran sesamanya.

Gedung yang penuh dengan mayat hidup, yang saling menyelipkan kepentingan, yang saling menjilat atas nama kebutuhan, yang saling bercinta dengan kepalsuan. Gedung kematian, yang sunyi akan kehidupan bunga-bunga keadilan yang berhiaskan dedaunan kasih dan sayang.