Peran Mitos Dalam Kehidupan Manusia

by Senjakala Adirata


Kajian tentang mitos telah banyak dilakukan oleh para ahli di Indonesia, misalnya; Minsarwati dalam bukunya yang berjudul “Mitos Merapi dan Kearifan Ekologi”, dijelaskan secara implisit, bahwa mitos-mitos yang terdapat disana, seperti dilarang menebang pohon di area gunung merapi, berburu binatang di hutan, tidak boleh mencari rumput atau kayu bakar dan lain sebagainya. Sesungguhnya larangan-larangan itu tersimpan kearifan ekologi penduduk terhadap lingkungan alam gunung Merapi, dan selalu berhubungan dengan pelestarian ekosistem. Kearifan disini diartikan sebagai tindakan penduduk setempat dalam melangsungkan kehidupan mereka yang selaras dengan lingkungan, dan merupakan manifestasi sistem kepercayaan yang mereka anut. Minsarwati menggambarkan bahwa gunung Merapi, yang secara lahir merupakan sebuah gunung berapi aktif, merupakan sebuah kerajaan gaib yang kasat mata, yang mempunyai hubungan dengan Keraton Surakarta, Pantai Selatan, Gunung Lawu, dan Kayangan Dlepih.
Diceritakan bahwa gunung Merapi bagi masyarakatnya merupakan sebuah gunung wingit, sakral, yang harus selalu dihormati, dengan cara pemberian sesajen atau ritual-ritual lainnya. Hal ini dimaksudkan agar penguasa gunung Merapi, tidak murka kepada mereka dan mau memberikan semacam dorongan agar membantu mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Endraswara (2003), menggambarkan bagaimana mitos mewarnai kehidupan orang Jawa. Endraswara mengemukakan bahwa kehidupan orang Jawa banyak dipengaruhi mitos, hal ini tampaknya berkaitan dengan paham kejawen yang mereka anut. Mitos di Jawa erat kaitannya dengan keyakinan atau kepercayaan. Banyak ragam mitos orang Jawa, misalnya mitos larangan, mitos tentang dewa-dewa, mitos ajisaka, mitos semar dan lainnya.

Di Maluku Utara, mitos tentang Empat Kerajaan (Moloko Kie Raha) yakni, Kerajaan Ternate, Kerajaan Tidore, Kerajaan Moti yang kemudian pindah ke Jailolo, dan Makian yang kemudian pindah ke Bacan, juga sangat erat bejalinan dengan kepercayaan masyarakat setempat. Diceritakan bahwa empat kerajaan ini adalah empat orang anak dari Jafar Sadik yang manikah dengan Puteri dari Kayangan.

Pembahasan

Kata mitos dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu berupa cerita suatu bangsa tentang dewa-dewa dan pahlawan-pahlawan pada jaman dahulu yang mengandung penafsiran tentang asal usul semesta alam, manusia dan bangsa itu sendiri dan mengandung arti yang mendalam yang diungkapkan secara gaib. Mitos menurut Harsojo (1988), adalah sistem kepercayaan dari suatu kelompok manusia, yang berdiri atas sebuah landasan yang menjelaskan cerita-cerita yang suci yang berhubungan dengan masa lalu. Mitos yang dalam arti asli sebagai kiasan dari zaman purba merupakan cerita yang asal usulnya sudah dilupakan, namun ternyata pada zaman sekarang mitos dianggap sebagai suatu cerita yang dianggap benar. Manusia memerlukan sekali kehadiran alam sehingga terjadi hubungan yang erat antara manusia dan alam. Levi-Strauss mengatakan bahwa, alam menjadi suatu pengalaman yang menentukan hidup. Manusia bukanlah makhluk dari luar alam dan makhluk yang agresif terhadap alam, melainkan sebagai bagian dari alam, manusia harus bersahabat dengan alam yang menentukan hidup dan pikirannya.

J.van Baal (dalam Minsarwati, 2002) mengatakan bahwa mitos dikatakan sebagai cerita di dalam kerangka sistem religi yang di masa lalu atau masa kini telah atau sedang berlaku sebagai kebenaran keagamaan. Melalui mitologi dapat diperoleh suatu kerangka acuan yang memungkinkan manusia memberi tempat kepada berbagai ragam kesan dan pengalaman yang diperoleh semasa hidup. Berkat kerangka acuan yang disediakan mitos, manusia dapat berorientasi dalam kehidupan ini. Ia tahu dari mana ia datang dan kemana ia akan pergi, kesimpulannya mitos menyediakan suatu pegangan hidup. Mitos menjelaskan bagaimana asal mula alam, pokok kehidupan manusia dan tujuan manusia, yang akhirnya dengan mitos manusia dapat tahu apa tujuannya dan bagaimana seharusnya bertingkah laku. Mitos biasanya berisi wahyu tentang kenyataan yang bersifat supranatural, yang mempunyai realitas, seperti mitos komogoni, adanya dewa dan kekuatan gaib, formulasi mengenai hukum, etika, perintah tentang melaksanakan kewajiban agama dan hidup bermasyarakat. Mitos berfungsi untuk mengkodifikasikan, memberikan dukungan dan memberikan landasan dari kepercayaan tradisional dan tingkah laku (Harsojo, 1988:228).

Mitos di Indonesia pada umumnya terbagi menjadi dua macam berdasarkan tempat asalnya, yakni: yang asli Indonesia dan yang berasal dari luar negeri, terutama dari India, Arab dan Negara sekitar Laut Tengah. Yang berasal dari luar negeri pada umumnya sudah mengalami pengolahan lebih lanjut, sehingga tidak terasa lagi keasingannya, hal ini disebabkan mereka telah mengalami yang oleh Robert Redfield et al disebut sebagai proses adaptasi (Danandjaja, 2002).

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa mitos merupakan suatu cerita rakyat, sejarah orang suci, yang diyakini dan disucikan oleh masyarakat dan dijadikan sebagai pedoman hidup atau hukum tak tertulis yang mengatur perilaku masyarakat.
Mitos merupakan bagian dari sistem kepercayaan, dalam artian kepercayaan terhadap kekuatan-kekuatan gaib yang telah menarik perhatian manusia, terutama pada hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-harinya. Hal ini tercermin dari kepercayaan manusia terhadap peristiwa-peristiwa alamiah diluar jangkauan kekuasaan manusia seperti adanya kelahiran, kematian, perjalanan jagad raya, bencana dan sebagainya. Di balik peristiwa itu manusia meyakini ada pengaruh dari kekuasaan luar biasa, penuh misteri, sedangkan manusia tidak bisa membuktikannya dengan akal pikiran mereka.

(Dari Berbagai Sumber)