Palsu

by Senjakala Adirata


Memandang sepatu baruku, aku tersenyum kecut tetapi bangga. Baju, celana, serta tas dan topi yang ku pakai saat ini baru semua. Sekalipun tak bermerek, biarlah. Dikatakan palsu, memang. Orang-orang Indonesia memang kreatif. Hanya sekali lihat suatu barang yang baru di launching dan belum sempat di pasarkan, langsung di bajak. Bahkan langsung menyebar ke seluruh pelosok Indonesia. Harganya pun terjangkau untuk masyarakat Indonesia. Mereka benar-benar memberikan solusi yang tepat pada saat negeri ini di guncang krisis.
Di kampus, aku sering ikut demo dengan kawan-kawan aktivis. Menggugat para pejabat. Kadang-kadang juga menggugat orang-orang yang berada di pihak biro Universitas yang menurut kami, mereka semua palsu. Kebijakan mereka sering kontra dengan mahasiswa. Bahkan merugikan. Mobil ber-plat merah yang sering mereka gunakan adalah palsu, yang asli adalah untuk rakyat. Bahkan mobil yang seharusnya di gunakan untuk kegiatan yang bersangkut paut dengan kantor, sekarang di gunakan untuk kepentingan pribadi. Tapi masih ada yang tidak seperti itu, meskipun sedikit. Tapi mayoritas begitu semua.
Barang-barang palsu memang meringankan beban rakyat, tapi di sisi lain merugikan yang punya merek dagang. Pemerintah melakukan pemberantasan terhadap barang-barang palsu. Mereka bilang di rugikan, padahal itu menguntungkan masyarakat kelas bawah atau masyarakat yang kere. Pejabat-pejabat yang bertugas untuk mensejahterakan rakyat, malah menimbun kekayaan dari pajak yang di tarik dari rakyat.

Suatu hari, Novia, temanku bilang,

“ Sudah, gak usah ikut-ikutan demo. Apalagi kritik-kritik dosen, nanti nilai malah hancur. Kasihan orang tua. Cari duit sekarang susah, apalagi sekarang pendidikan di perdagangkan. Yang penting nilai bagus bagaimanapun caranya. Orang tua senang dan juga cepat wisuda” Katanya, ketika aku selesai ikut demo tentang dosen yang bermasalah. Aku hanya terpekur memikirkan kata-katanya. Ada benarnya yang temanku bilang. Aku tidak mau berlama-lama di kampus. Kasihan orang tua.
Setelah itu aku hanya berpikir kuliah. Nilai jeblok, bayar pakai uang tabungan biar bagus. Nggak bisa, rayu sedikit kalau dosennya laki-laki. Aku kan punya modal kecantikan. Tapi, terkadang aku dapat caci maki dari dosen. Mereka ada yang kebal. Gelar mereka asli, bukan palsu, jadi sulit untuk melobby. Tapi hanya sedikit saja yang seperti itu. Bisa di hitung dengan jari.

Temanku yang masih ikut-ikutan demo mengkritikku. Dia bilang, harga diriku tak lebih mahal dari pada nilai A. Padahal, nilai itu palsu. Pendidikan yang seharusnya menjadi suatu proses pembelajaran, malahan menjadi proses pembodohan. Pendidikan sekarang juga sudah palsu. Gelar S.H, S.E, S.T, S.S semuanya palsu. Bahkan yang pakai M dan D juga sudah di palsukan. Kata temanku itu, nyerocos seperti burung Beo.

Aku berpikir kembali. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian. Aku dapat pendidikan, tetapi belum dapat penelitian dan belum melakukan pengabdian. Penelitian hanya di lakukan oleh dosen. Mereka nggak pernah ngajak mahasiswa untuk ikut. Nggak tahu, mungkin “hasilnya cuma sedikit” kalau orang banyak. Pengabdian, ya mungkin cuma ikut-ikutan demo saja menentang kebijakan yang tidak bijak dari pemerintah. Aku belum terlalu banyak mengabdi pada masyarakat.

Seketika aku banting stir. Agent of social change dan Agent of social control aku tata kembali dalam tembok idealismeku. Biar saja jadi mahasiswa yang paling lama di kampus, asalkan gelarnya nggak palsu. Baju, celana, sepatu, tas dan perlengkapan kuliah lainnya boleh palsu karena memang dana minim untuk beli yang asli. Tapi yang paling penting, Aku tidak mau menjadi palsu. Meskipun aku di Aku-kan oleh orang-orang di sekitarku, Aku harus tetap menjadi Aku. Aku asli. Aku bukan palsu. Meskipun mungkin sekarang ini palsu pun sudah di palsukan.

(pernah di muat di tabloid Salawaku)