Popeda

by Senjakala Adirata

Sudah menjadi hal yang lumrah ketika setiap daerah memiliki ciri khas masing-masing. Entah itu dari model pakaian daerah, budaya dan adat sitiadat serta kuliner atau makanan tradisional. Aceh dengan rencongnya, Jawa dengan kerisnya dan Maluku Utara dengan Peda (parang)nya. Dari segi makanan tradisional pun jelas tiap daerah berbeda-beda. Dari beras, jagung, singkong (ubi kayu) atau pun sagu.

Ada jenis kuliner yang unik dan menarik di daerah Maluku khususnya Maluku Utara. Malahan sebagian orang bilang, belumlah boleh disebut berkunjung ke Maluku Utara jika belum pernah mencicipi makanan yang satu ini. Makanan ini akan lebih sedap dan nikmat jika saat makan tidak menggunakan sendok melainkan menggunakan tangan.

Popeda, masyarakat Maluku Utara menyebutnya demikian. Makanan ini berbahan baku sari pati ubi kayu. Biasanya, sati pati ini memang banyak yang menggunakannya untuk lem kertas. Tapi, di Maluku Utara masyarakatnya mampu menyulap sari pati singkong ini menjai makanan yang lezat.

Singkong pilihan yang dipetik dari pohonnya, di parut, diperas lalu disaring. Setelah itu diendapkan dan diambil sari patinya. Masyarakat Jawa menyebut sari pati ini dengan tepung kanji. Setelah sari pati tersebut diambil, wujudnya seperti tepung. Dan saat yang sakral dari proses membuat Popeda adalah ketika menyiramkan air panas ke sari pati tersebut. Banyak orang yang kesulitan karena jika menyiramnya terlalu banyak, maka akan jadi terlalu lembek dan tidak enak dimakan. Namun jika terlalu kental juga tidak sedap di telan.

Kenikmatan dari Popeda adalah ketika disajikan saat masih hangat. Cara mengambil Popeda dari tempat menyiram (Bokor/Baskom) tadi pun unik. Kebanyakan, masyarakat Maluku Utara menggunakan bagian pangkal dari sendok. Dua sendok yang dipegang ujungnya dengan dua tangan, lalu bagian pangkal sendok dicelupkan dalam sari pati yang sudah disiram, kemudian digulung secara memutar ke arah atas dan bawah. Ketika tangan kanan memutar ke atas, maka tangan kiri ke bawah dan seterusnya. Orang yang baru datang berkunjung ke Maluku Utara akan kesulitan mengambil Popeda dari tempatnya. Popeda tidak dapat diambil dengan sendok nasi (centhong) atau langsung mencelupkan tangan (tidak sopan). Inilah keunikan dari Popeda.

Selain itu keunikan yang lain adalah saat memakannya harus di belah sedikit demi sedikit dengan menggunakan dua jari yakni jari jempol dan telunjuk. Setelah itu, Popeda juga tidak bisa dikunyah seperti makanan lain sehingga saat sampai di dalam mulut, maka harus langsung ditelan begitu saja. Tapi, justru dengan demikianlah kenikmanatan Popeda dapat dirasakan. Memakan Popeda biasanya di campur dengan Kuah khusus yang dicampur dengan ikan. Rasanya pun khas. Kuah itu terdiri dari air yang direbus dengan ikan kemudian dicampur dengan irisan tomat dan cabai mentah. Agar aromanya harum bisa dicampurkan dengan daun balakama (kemangi) secukupnya dan lemon (jeruk) asam. Kuah yang seperti ini biasanya disebut kuah asam. Ada lagi satu jenis kuah yakni kuah Suru. Kuah Suru terdiri dari air yang direbus dengan Terong bakar, lalu dicampur dengan ikan tore (ikan yang dipanggang hingga kaku, orang Maluku Utara biasa menyebutnya ikan tore atau ikan julung), kemudian tomat bakar dan terasi bakar. Terakhir lemon (lemon) asam dimasukkan ke dalam campuran tersebut. Bisa juga dicampur denganbelimbing wuluh. Semua campuran tersebut dimasukkan ketika air sudah mendidih.

Bagi pelancong yang suka dengan makanan tradisional, maka belumlah lengkap jika belum mencicipi apa yang namanya Popeda.