Puisi

by Senjakala Adirata


Gaung itu tak menandakan gembira, begitu menyayat dan menyiratkan kesedihan yang sembilu menusuk kalbu dengan iringan tangis sedu. Seluruh mata tertuju pada suara yang tak ragu merengkuh kembali masa silam yang mengaduh. Seluruh otak terpusat tuk kembali layari masa lampau. Panggung itu tersipu, dan beberapa semut yang berlarian di dinding seketika lumpuh terpukau dan terpaku.

Dan Dia yang disana tersipu. Tersipu. Tersipu.

“Terima kasih” suaranya terdengar serak pelan tersedu sedan sambil berlutut dan menunduk. Balasan riuh renyah tepuk tangan berhambur memenuhi ruang yang tadi pilu beberapa waktu. Masih terlihat bekas basah di pipi orang-orang yang duduk menatap ke objek yang hanya satu.

Dan Dia yang disana tersipu. Tersipu. Tersipu.

Masih tetap berlutut dan menunduk. Lantai panggung basah oleh tetesan air mata sayu. Beberapa detik kemudian, rubuh. Tak bergerak sedikitpun tubuh. Padam tangan yang bertepuk. Semua mata melotot tertuju tubuh yang tergolek didepan tirai biru yang lusuh.

Dan Dia yang disana tersipu. Tersipu. Tersipu.

Berlari Sang Rembulan Merah Jambu. Di dekap dan digoyang-goyangkan tubuh yang layu. Rasa sedih mendobrak merahnya kalbu. Dan suara itu terdengar keluar dengan malu. Lirih dan sengau. Dan beberapa orang berlari menuju Rembulan Merah Jambu yang mendekap tubuh layu. Yang lain tergagap bingung sambil menahan ngilu. Yang lainnya segera mengangkat dan membawa tubuh itu memasuki ruang yang tak biru. Dan semua orang terharu.

*****

“Kau tak lelah?” tanyanya dengan muka lurus tanpa memandang si lawan bicara. Lalu, arak-arakan asap berjejal berebutan keluar dari lubang hidung. Dan yang lainnya keluar dari mulut dengan cepat terdorong angin yang disengaja ditiup.

“Lelah untuk apa?” balik bertanya. Lalu diambilnya rokok sebatang yang tersisa dalam bungkus coklat tua kemudian di bakar. Dia menghirupnya pelan, tapi pasti dan sejurus kemudian gumpalan gas berwarna putih bermunculan dari lubang hidung dan mulut. Rambutnya tergerai hampir sebahu dan dibiarkannya semilir angin menciuminya tiada henti.
“Seperti topeng monyet saja. Menjadi tontonan” kata lelaki yang rambutnya tergerai itu.

“Bukan topeng monyet, hanya dirimu saja yang beranggapan seperti itu. Aku cemburu melihatmu. Kau sanggup membuat mereka….” Suaranya tertahan. “Rembulan Merah Jambu…?!!” katanya heran setelah melihat sekelebat gadis yang baru saja lewat membonceng sepeda motor dengan tergesa-gesa. Kelihatannya ada hal yang gawat dan membuat gadis itu merasa khawatir serta cemas. Kemudian melihat lelaki yang rambutnya tergerai. “Kau tak mengejarnya untuk menemuinya?” sambungnya.

“H..hhhh.hhh.hhh” lelaki itu menghembuskan nafas panjang, melenguh, sambil kepalanya tertunduk. Lalu dia mengangkat kepalanya dan menoleh kepada lawan bicara.

“Belum lama aku mengenalmu, dan kini kita berjumpa pada waktu yang tak kutahu dan tempat yang tak kutahu pula. Ingin aku mengejarnya tapi itu tidak mungkin” ia diam sejenak lalu melanjutkan; “Kenapa kau bercerai dengan Hapshah?” tanyanya. Dan pemandangan dengan pelan memutih, memutih dan semakin putih. Yang terlihat hanya warna putih.
“Kau tak perlu tanya karena sebenarnya kau telah tahu” jawabnya.
“Rambutmu masih tetap berantakan. Tapi banyak yang mengabarkan dirimu. Tidak seperti para elite politik dengan penampilan rapi tapi pengumbar janji yang hanya menorehkan nama buruk untuk bangsa ini”
“Rambutmu juga berantakan. Apa Rembulan tak memarahimu? Kau tak mau ikut terjun ke dunia politik seperti mereka?” dia balik berkata dan bertanya.

“Entah apa yang ku urus hingga orang bilang aku sendiri tak mampu urus diri. Dia selalu memperhatikanku dan pasti marah. Dunia politik itu terlalu hitam dan sudah banyak yang tak lagi percaya. Mereka hanya bajingan berseragam kebangsaan! Aku, lebih baik jadi binatang jalang, Chairil” kata lelaki berambut hampir sebahu dan tergerai itu. Yang di panggil Chairil hanya tersenyum kemudian melanjutkan menghisap rokok.
“Tentang Sri Ajati?” lanjut lelaki berambut tergerai.

“Aku tak pernah mampu bilang padanya. Dan itu kejelekanku. Aku bukan orang yang bertipe setia. Tidak seperti dirimu, Adi” kata Chairil.
“Ah, tidak juga! Nyatanya kau tetap setia kepada sastra” Adi menyangkal ucapan Chairil.

Chairil kembali tersenyum. Matanya merah, karena terlalu banyak membaca. Rambutnya berantakan karena tak ada gadis di dekatnya. Namun ia tetap terlihat gagah seperti dulu. Tak kurang sedikitpun. Gemuruh hatinya masih terdengar. Sungguh, dia memang orang yang merdeka dan berusaha untuk memberi semangat kemerdekaan kepada khalayak.

Chairil mengambil bungkus warna coklat tua itu. Tak tersisa. Habis.
“Sudah habis. Mari pulang. Aku antar kau sampai ke tempatmu” katanya sambil berdiri menengadahkan tangan dengan maksud membantu Adi untuk berdiri. Tangan Adi langsung menyambutnya. Mereka berjalan. Tak ada lagi pecakapan. Seluas pandang, hanya warna putih yang terlihat. Tak lama kemudian, Chairil memegang tangan Adi.

“Sampai disini, turunlah!” kata Chairil menyuruh ketika di depannya terdapat tangga turun. Adi seperti terkena hipnotis. Langkahnya layu menuruni tangga yang berwarna putih bersih.
“Adi!” Chairil memanggil. Yang dipanggil menoleh.
“Bukan pertunjukan topeng monyet. Kau di tonton untuk menunjukkan sampai sejauh mana dirimu memahami seni. Tak perlu kedudukan, karena dari dulu sastrawan dan seniman adalah orang miskin harta. Tapi mereka tak pernah miskin hati dan jiwa. Tidak seperti orang sekarang yang memperdagangkan pendidikan, menghalalkan uang rakyat untuk di kunyah sendiri. Membual ilmu sastra dan mengharap imbalan, tapi berzinah sendiri dengan seninya. Justru dengan berteriak itulah kau bukan topeng monyet. Dan mereka, yang hanya mampu mengajarimu tapi tak pernah punya daya, mereka yang seperti monyet. Yang mempertontonkan ilmunya, tapi tak pernah memahami substansinya. Dengan berbagai alasan yang tak bisa diterima oleh akal waras” katanya seperti memberi nasehat. Lalu ia berpaling dan melangkah memunggungi Adi yang diam terpaku, ternganga.
“Loyalitasmu hanya untuk seni dan seni untuk semua golongan yang tertindas. Bukan terhadap institusi yang memperdayaimu dengan berjuta narasi agung yang tak memiliki jiwa” tambahnya sembari berjalan menjauh. Menghilang di telan warna putih yang semakin memudar. Semakin memudar dan terus semakin memudar. Dan hitam, biru, merah, ungu, kuning dan segala warna kembali merambat terlihat merayap. Dan warna putih kembali terlihat di atas dan bergaris simetris. Beberapa pijar lampu menyala memutihkan ruang yang berjendela dan bertirai warna biru.

Dengan sigap, Adi terbangun seketika. Peluh membasah mengalir di parit-parit lehernya. Air menyembul melalui lubang pori dan membuat rasa lembab di sekujur permukaan kulit.
“Chairil……” bisiknya pelan.

Dan Rembulan Merah Jambu menyambut tangannya yang sedingin es. Tangannya yang lain dengan lembut di letakkan di punggung tubuh yang layu itu. Gadis itu melihat, tak ada pancaran dari wajah lelaki berambut hampir sebahu. Pucat pasi.

“Kau pingsan setelah membaca puisi” katanya lirih.
Lelaki itu menoleh kepadanya. Dengan tatap mata sayu, bibirnya dengan pelan tersenyum. Lalu beberapa patah kata terdengar.
“Chairil…..” Dan setelah itu satu tangannya memegangi perut dan yang lainnya menutup mulutnya sendiri.

“Oaaaggghhhh…..” dan cairan berwarna merah itu keluar dari mulut menerobos sela jemarinya. Lalu keluar lagi lebih banyak. Lalu keluar lebih banyak lagi hingga membuat sprei putih itu belepotan warna merah. Berbau anyir. Tangannya lemas, terkulai. Kapalanya tertunduk. Kemudian roboh, tapi tertahan pelukan Rembulan Merah Jambu. Gadis itu panik. Wajahnya berubah menunjukkan kecemasan yang sangat. Ia membaringkan Adi lalu berlari keluar ruangan menelusuri selasar sambil berteriak.

“Dokter….!!!!”
“Dokter….!!!!”

Orang-orang yang duduk di kursi-kursi tunggu melihatnya. Orang-orang yang berlalu-lalang berhenti dan memperhatikannya. Tapi ia tak peduli, terus berlari sambil berteriak.
“Dokter….!!!!”

“Dokter….!!!!”

03/04/09;01:05 pm

gambar dari hajriansyah.wordpress.com