Mana Yang Baik?

by Senjakala Adirata


Tulisan ini agak serius, jadi yang tidak berkenaan silahkan baca tulisan lain.:mrgreen::mrgreen::mrgreen::mrgreen::mrgreen::mrgreen:

Perjalanan dan perkembangan alam pikir manusia, dari Thales hingga Paul Sartre kiranya berusaha menemukan sesuatu hal yang tampaknnya bertujuan baik. Berbagai aliran dan pemahaman yang muncul dalam ilmu filsafat, dari idealisme Plato sekitar 300 tahun sebelum Masehi, Rasionalisme Descartes pada abad 16, hingga New Age dan Parenialisme pada abad kini, semuanya mencoba untuk menunjukkan yang tampaknya baik dan bagaimana menjalankannya sesuai dengan hasil pemikirannya.

Peng-aplikasian hasil pemikiran untuk diejawantahkan dalam dunia kehidupan melalui tingkah laku dan tindak-tanduk, kiranya tetap nampak baik jika saja tingkah laku dan tindakan tersebut sejalur dengan hasil pemikiran. Dari hasil pemikiran tersebut yang kemudian dipraktekkan dalam hidup, secara tidak sadar menjadi sebuah kajian baru dalam filsafat yaitu etika. Hasil pemikiran yang kemudian dipraktekkan menjadi bagian dari etika yang mana adalah ilmu spekulatif praktis, kerap kali menjadi perdebatan ketika hasil pikir baru tersebut bertentangan dengan nilai-nilai yang telah disepakati oleh masyarakat. Seperti halnya jika kita membela martabat suku kita, tentunya bagi kita adalah baik. Namun jika chauvenisme yang berlebihan dalam setiap keturunan hingga mengakibatkan pertikaian dengan suku lain dan akhirnya terjadi perkelahian antar suku, apakah perkelahian itu juga baik? Lalu bagaimana dengan membela martabat suku yang menurut kita baik tadi jika akhirnya bertikai dengan suku lain?
UU-APP (Undang-Undang Anti Porno Aksi dan Pornografi) yang baru saja disahkan dan menimbulkan berbagai kontroversi di belahan penduduk bumi Nusantara, menurut sebagian orang adalah baik. Kampanye untuk melestarikan kearifan lokal dan menjaga budaya daerah setempat untuk menangkis budaya Barat yang kian membanjir tak terkontrol, menurut sebagian besar orang adalah juga baik. Namun kemudian yang dipermasalahkan adalah bagaimana dengan hasil cipta, rasa dan karsa (budaya) oleh nenek moyang kita yang berupa tarian-tarian yang berbusanakan busana daerah yang agak vulgar serta gerakan erotis dimana menjadi ciri khas tersendiri, dan itu bertentangan dengan UU-APP? Lalu sebenarnya yang baik yang menjadi tujuan kita sebenarnya yang mana?

Mode pakaian seksi dan ketat yang banyak dipakai oleh sebagian besar remaja Nusantara, yang dalam pandangan subyektif adalah baik (karena berlandaskan estetika) juga bertentangan dengan nilai-nilai moral (etika) yang telah menjadi kesepakatan masyarakat Timur—yang juga baik. Kiranya apakah baik atau buruk batasannya semakin kabur?
Berbagai contoh kasus di atas sering membuat banyak orang kemudian ragu akan mana yang baik dan mana yang buruk. Hal ini kemudian menjadikan dalam pribadi masing-masing untuk memutuskan sesuai dengan kehendak. Ego kemudian muncul dan banyak dari sebagian besar manusia mengatakan bahwa kebenaran itu relatif. Benar menurut kita, benar menurut mereka dan benar menurut kalian. Ragu-ragu inilah yang diajarkan oleh Pyrho 3 abad sebelum Masehi. Pyhro tidak meninggalkan warisan tertulis. Namun filsafatnya tentang tingkah laku berdasarkan atas logika pula.

Orang banyak merasa tak bahagia, karena ia mengira mempunyai pengetahuan yang pasti, dan ternyatalah bahwa ia keliru. Dan itu memang sebenarnya, karena menurut aliran ini manusia memang tidak mungkin mencapai kepastian. Pengetahuan kita tidak boleh dipercaya!
Supaya orang jangan tidak berbahagia, supaya ia sungguh dapat bijaksana (memiliki ketengan hidup), maka haruslah ia tidak mengambil keputusan. Orang yang tidak mengambil putusan tidak pernah keliru. Dengan kata lain, haruslah ia ragu-ragu.
Dengan ragu-ragu dan kita mengatakan tidak tahu, maka kita menjadi orang yang benar tidak tahu. Adakalanya lebih baik kita tidak pura-pura tahu agar dianggap tahu oleh orang, namun sebenarnya kita tidak tahu dan hanya sok tahu.


Abdul hakim, Drs. Atang, M.A dan Drs. Beni Ahmad Saebani, M.Si. Filsafat Umum dari Metologi sampai Teofilosofi. Pustaka Setia. Bandung, 2008
Aristoteles. Nicomachean Ethics. Teraju (PT Mizan Publika). Jakarta Selatan, 2004
Salam, Drs. H. Burhanudin, M.M. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Rineka Cipta. Jakarta, 2000
Poedjawijatna, Prof. I.R. Pembimbing Kearah Alam Filsafat. Rineka Cipta. Jakarta, 1990