Maitara

by Senjakala Adirata


Sekilas Maitara

Nama Pulau Maitara memang tak sepopuler nama pulau-pulau di Indonesia seperti Bali, Nias, Flores, Buru atau Nusa Kambangan. Jarang sekali orang tahu lebih dalam Pulau Maitara Tapi, jika kita lebih teliti, maka kita sebenarnya hampir setiap hari melihat pulau yang bernama Maitara ini. Gambar pulau ini terdapat di satu sisi uang seribu rupiah bersama pulau Tidore dan di sisi sebaliknya terdapat gambar pahlawan Nasional, Kapitan Pattimura.

Sekalipun hampir setiap hari kita melihat Maitara pada uang seribu rupiah, namun kita tak pernah tahu keunikan dan kelebihan pulau tersebut serta kehidupan masyarakat Maitara yang masih kekurangan air besih. Pulau Maitara memang tak seluas pulau disebelahnya seperti Ternate atau Tidore, atau pun juga Mare atau Moti. Namun, di pulau Maitara terdapat beberapa pantai pasir putih yang indah dan mempesona. Hanya saja keindahan ini belum dioptimalkan sebagai objek wisata unggulan yang mampu menghasilkan bagi pemerintah daerah setempat.

Mitos Maitara

Sebagian besar masyarakat Maitara meyakini jika asal-usul pulau ini tidak muncul begitu saja. Mitos yang diceritakan oleh masyarakat setempat, bahwa pulau Maitara adalah bagian dari pulau Makian. Konon, saat Sultan Mansyur Malamo menjabat sebagai sultan di kesultanan Ternate, ia malu terhadap Sultan Tidore karena Pulau Tidore memiliki puncak yang lebih tinggi dari pulau Ternate. Oleh karena itu, Sultan Mansyur Malamo mengirim seekor burung berkepala dua yang disebut burung Goheba untuk pergi dan mengambil tanah di Pulau Makian guna diletakkan di puncak gunung Ternate agar lebih tinggi dari gunung Tidore.

Setelah burung Goheba mengambil tanah di Makian, burung Goheba kembali ke Ternate. Namun sebelum sampai ke Ternate, pagi sudah mendahului Goheba sehingga Goheba kaget dan secara spontan tanah yang dibawanya terjatuh. Tanah itu terjatuh antara pulau Ternate dan Pulau Tidore yang akhirnya menjadi sebuah pulau yakni Maitara.

Adapun hal yang membuat masyarakat yakin akan mitos ini, karena hingga sekarang tidak ada sumur yang memiliki air tawar di daerah Maitara. Terjatuhnya tanah yang dibawa oleh Goheba mengakibatkan air laut merembes ke atas dan setiap kali orang Maitara menggali sumur, airnya pasti berasa asin.

Kata Maitara ini berasal dari bahasa Tidore, Maratara yang berarti dari Makian Ke Ternate. Ada juga versi lain yang mengatakan bahwa asal-muasal nama Maitara adalah asli Maitara yang berarti Jatuh ke Bawah. Alasan yang lebih kuat lagi mengapa masyarakat percaya dengan mitos di atas adalah Maitara berada tidak jauh diantara Ternate dan Tidore. Selain itu juga pasir yang berada di Maitara berwarna Putih sama dengan pasir pulau Makian, sedangkan pasir Ternate dan Tidore sebagian besar Hitam.

Masyarakat Maitara

Pertama kali Maitara dihuni oleh orang Tidore dari Soasio. Namun, versi lain mengatakan bahwa masyarakat Maitara pertama adalah orang Tidore Toloa. Dari kedua versi tersebut dibenarkan oleh masyarakat Maitara karena terdapat bukti yakni ada pembagian kelompok.
Sebelum Maitara menjadi Desa yang berdiri sendiri, Maitara berada di bawah Desa Rum. Menjelang tahun 1999 Maitara dimekarkan dan berdiri sendiri. Hal ini berkat perjuangan dari tokoh masyarakat yang bernama Salahudin yang namanya diabadikan sebagai nama salah satu masjid di Maitara.

Kehidupan masyarakat Maitara, seperti masyarakat lainnya di pesisir. Banyak penduduk yang berprofesi sebagai nelayan. Ada juga dari pihak perempuan yang menjadi dibo-dibo ikan (membeli ikan lalu menjualnya kembali/tengkulak). Sebagian kecil bekerja sebagai penyedia jasa transportasi laut yang menguhubungkan Maitara-Tidore atau Maitara-Ternate. Ada juga yang menjadi tukang ojek dan petani tanaman tahunan (Cengkih, Pala dan Kelapa). Namun pekerjaan tukang Ojek dan petani hanyalah pekerjaan sampingan.

Adat dan Budaya Masyarakat Maitara

Di Maitara terdapat dua dusun yakni dusun Doe-Doe dan dusun Ake Bai. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Maitara adalah bahasa Tidore. Beberapa alat teknologi yang digunakan oleh masyarakat Maitara sudah modern. Untuk menangkap ikan, sebagian nelayan sudah menggunakan perahu motor, namun masih ada juga yang memakai sampan. Dalam peralatan pertanian, masih agak tertinggal. Alat yang digunakan seperti Peda (parang), cangkul, Kuda-Kuda (sejenis parang namun pendek dan berujung tumpul serta tidak tajam. Digunakan untuk membersihkan rumput), Saloi/Soloi (anyaman bambu yang di gendong di punggung. Berguna untuk membawa rumput atau hasil panen seperti cengkih, pala dan kelapa) serta pisau. Makanan tradisional masyarakat Maitara juga seperti layaknya masyarakat Maluku Utara, yakni Popeda (dibuat dari Sari Pati Ketela Pohon—singkong—kemudian disiram dengan air panas sehingga menjadi agak kental dan lengket seperti lem). Biasanya Popeda dimakan dengan Ikan.

Keunikan seni tradisional masyarakat Maitara adalah tarian Soya-Soya yang sering dipertunjukkan ketika ada tamu istimewa yang datang. Selain Soya-Soya, terdapat juga tari Cakalele yang dulunya digunakan sebagai tari ketika akan berangkat perang.

Masyarakat Maitara menganut agama Islam. Mereka juga meyakini keberadaan Jin. Bagi masyarakat Maitara, Jin memiliki kontribusi dalam kehidupan. Biasanya, kekuatan Jin ini di gunakan ketika acara Tarekat atau Badabus.

Keindahan landscape yang disajikan di Pulau Maitara, rupanya masih menyisakan keprihatinan bagi kehidupan masyarakat setempat. Keindahan alam tersebut belum dioptimalkan sehingga pariwisata belum bisa dijadikan sebagai penghasilan utama. Selain itu, masyarakat Maitara juga kekurangan air bersih. Kebanyakan masyarakat Maitara menggunakan air hujan untuk keperluan sehari-hari. Kekurangan air bersih ini juga menjadi bukti yang diyakini bahwa Maitara bukan pulau Asli melainkan Pulau yang asalnya seperti yang diceritakan pada mitos diatas.

Tulisan ini saya buat saat saya masih di Ternate