Apakah Tradisional Itu Harus Dibuang?

by Senjakala Adirata

Seperti yang sudah kita ketahui bersama bahwa apa yang kita kenal dengan global village sudah terwujud. Global village, dimana kita pada negara satu dengan negara lainnya seperti sudah tidak punya batas lagi. Luasnya samudra mampu diseberangi, jauhnya daratan mudah untuk dilalui. Dan, percakapan secara langsung lintas batas pun dengan ceria kita telah gunakan melalui teknologi ponsel dan internet.

Semua itu diakibatkan oleh modernitas. Modernitas ini rupanya dibawa oleh apa yang namanya globalisasi dimana kita berusaha untuk menjadi sebuah masyarakat satu desa dalam satu dunia, meski berbatasan. Tapi seperti yang telah disebutkan diatas bahwa batas itu sudah semakin lenyap.

Kehadiran globalisasi membawa dua buah wajah yang berlainan. Di satu sisi, dia menjadikan kita lebih mudah dalam segala hal yang menyangkut pekerjaan fisik karena perkembangan dan penyebaran teknologi. Di sisi lain, apa yang namanya globalisasi dengan halus memaksa kita untuk mampu beradaptasi dan menyesuaikan dengan budaya-budaya baru yang diakibatkan oleh mesin-mesin yang telah diciptakan. Budaya-budaya baru itu yang kemudian kita sebut sebagai suatu bentuk perbuatan yang modern karena menggunakan alat yang terbaru.

Namun, sisi yang terkhir ini tanpa kita sadari telah membunuh apa yang namanya tradisi. Tradisi yang telah diciptakan oleh nenek-moyang kita, dengan terpaksa harus kita hina dan lupakan hanya agat disebut manusia modern. Sejatinyam tradisi yang telah tercipta dan selayaknya dikembangkan ini adalah sebuah laku untuk menampilkan ciri identitas kita sebagai kumpulan masyarakat yang memiliki jati diri. Kenyataannyam kita berpikiran bahwa suatu hal yang tradisional itu adalah hal yang kuno, kusam, wagu, usang dan seharusnya cepat-cepat dipendam, di injak, dibuang dan dikubur dalam-dalam. Sebuah pikiran sesat kita ini muncul tanpa kita sadari dan dengan tanpa malu mengaku sebagai manusia modern dengan mengkonsumsi mesin-mesin.

Nilai-nilai yang telah lahir dan memberikan aturan tatakrama dari moyang kita, tak lagi dihargai. Bahkan dengan tanpa rasa malu, kita dengan santainya mengekor/menjiplak/mengikuti budaya orang lain. Tanpa di sadari kebodohan kita malahan kita banggakan. Kita bodoh karena kita memang tak pernah mampu seperti moyang kita. Kita tak pernah mampu mencipta sebuah (ke)budaya(an) luhur nan agung. Kita tidak kreatif. Kita tidak inovative. Dan, kita bodoh serta lebih bodoh dari moyang kita yang dulu belum mengenal handphone dan komputer.

Suatu kemodernan adalah suatu hal yang baik. Tapi, tidak selayaknya kita beraggapan bahwa hal yang tradisional itu harus cepat-cepat dikubur, dibuang, dimusnahkan. Perlu diketahui bahwa modern tidak akan pernah tercipta tanpa ada yang tradisional. Dan dengan tetap menjaga (ke)tradisional(an) tanpa menyinyir modern maka kita akan tetap menjadi manusia yang tidak lupa akan kulitnya.

Tulisan ini pernah saya muat di Bahenju