Berbagi Cinta?

by Senjakala Adirata

Kisah cinta pada tiap tahap dunia, alurnya tak pernah sirna. Membengkok, bercabang, mengakar, menjalar dan membalik berputar. Ia selalu hadir dalam kisah tragis dan dramatis.

Pada deskripsi singkat itulah aku terjepit pada sebuah batu sandaran yang diharuskan menjadi batu sandaran karena seorang teman telah terjerat dalam dramatisnya percintaan.

Ia ngoceh tak karuan, meracau, mengigau pada tiap malam tanpa henti seperti suaranya tak lagi ada hambatan.

Hatinya telah tertambat pada seorang gadis. Tak syak lagi, ia layaknya seperti Qais dalam cerita Laila dan Majnun. Ia yakin bahwa gadis itu adalah takdirnya, hingga pikirannya telah penuh dengan wajah sang gadis. Syairnya terus mengalir pada parit-parit kertas usang. Ia, menjadi Majnun karena cintanya.

Namun, tepian cinta yang ku tahu tak ada batasnya akhirnya ku jumpa tepian itu. Tak pernah ku menyangka, pada kegilaan sahabat karibku yang selalu mengadu padaku, ia rupanya mencintai gadis yang telah mencintai orang lain. Tapi juga gadis itu selalu saja memberikan cahaya pada saat fajar seperti halnya kita menanti mentari. Hingga terlihat bahwa gadis itu benar-benar mencintai sahabatku. Meski yang semestinya, cermin itu hanya bisa untuk berkaca seorang, kini si gadis mencoba memecahnya agar dua orang pangeran bisa berkaca pada cermin cintanya.

Pada ujung ke-majnun-nya sahabatku, ia sadar bahwa ia salah. Dan ia berkata: “yang ku tahu, cinta itu bagai cermin. Ia tak dapat dibelah atau dipecah. Dan ketika dipaksa untuk dipecah atau dibelah akan tetap ada bekas ketika coba digabung. Bekas itu bernama kecemburuan, kerinduan, kebencian, pengharapan dan rasa sayang yang disembunyikan. Bekas itu adalah segala kebohongan dan kemunafikan”

gambar dari andhikaprima.wordpress.com