Matikah Realitas?

by Senjakala Adirata

Pada sebuah kesendirian, pada kesendirian dan pada kesendirian lagi krupuKCair dihantui rasa gelisah bukan kepalang. Kegelisahan itu bukan tanpa alasan yang tidak jelas. Hampir tiap hari pikiran ini disibukkan berjibaku dalam hal ;“benarkah apa yang menjadi kegelisahan ini adalah realitas?”

Entahlah, bagaimana sebenarnya konsep tentang realitas. Bagi sebagian banyak orang mungkin realitas adalah sesuatu yang bisa diamati dan keber-ada-annya dapat dipertanggungjawabkan. Bisa diamati khusunya melalui indera kita (eksistensialis banget ya?). Tapi memang seperti itu kebanyakan orang memahami.

Realitas dalam sebuah aktivitas adalah segala hal yang berlaku dalam kehidupan kita. Dalam kehidupan di atas bumi ini, kita berpaham bahwa inilah realitas. Tapi dalam sekejap, dunia berubah ketika internet lahir. Internet, disebut juga dunia maya. Pengertian maya adalah semu, hal yang tak nyata. Namun kian berkembangnya internet, berbagai jejaring sosial hadir. Wadah itu digunakan untuk berkumpulnya para netter dan saling berkomunikasi secara oral maupun verbal. Para netter, ngobrol dan bercanda dalam ‘perjumpaan’ di dunia semu. Mereka akrab bahkan saling mempercayai satu dengan yang lain meski berlum pernah ‘ketemu’.

Semakin populernya situs jejaring sosial serta didukung oleh teknologi yang maju, internet sebagai wadah utama situs tersebut di sematkan dalam ponsel. Maka, ponsel yang sekarang adalah hal yang tak bisa dilepaskan dalam aktivitas menjadi sarana dalam berkomunikasi dalam situs jejaring social dengan bahasa verbal. Ke-eksistensi-an seseorang di nilai dari secepat apa ia meng-update statusnya dalam jejaring social tersebut. Dalam hal ini, akan kian menjadi-jadi ketika pada diri seseorang diselimuti oleh sikap asing terhadap dunia yang diajalaninya. Sehingga, dunianya bukan dalam dunia sebenarnya melainkan dalam dunia maya. Seseorang akan lebih merasa nyaman ketika berkomunikasi dengan teman dunia mayanya. Dan lagi, dalam dunia internet kini penggalian keuntungan bisa didapat. Perdagangan secara online, pertukaran barang bisa dilakukan dengan informasi yang jujur, bahkan aktivitas—maaf—seks bisa juga dilakukan melalui web cam secara live.

Kegelisahan inilah yang menghantui krupuKCair. Realitas seakan mati. Segala aktivitas sekarang bisa dilakukan secara online dalam dunia maya, dunia semu. Budaya pekerja yang kerjaannya monoton, pagi kerja, sore pulang dan seterusnya menjadikan ruang lingkup bergaul kian sempit. Hal itu bahkan menjadikan seseorang semakin asing dengan dunianya sendiri. Virus itu pun kian merebak dengan cepatnya seiring dengan berkembangnya industry di berbagai belahan dunia. Ke-dinamis-an hidup tak lagi terasa dalam dunia sebenarnya, melainkan dalam dunia semu, dunia maya, ke-dinamis-an kian berkembang dengan cepat. Batas geografis tak lagi jadi penghalang, agama, ras serta suku bukan lagi tembok, bahkan aturan etika social yang telah menjadi konvensi dari leluhur tak terjadi di sini, di dunia maya. Bertelanjang ria seakan menjadi hal yang biasa.

Oh, inikah dunia post-modern. Dunia setelah mengalami fase modern yang telah mematikan realitas? Dan inikah yang disebut post-reality atau hyper-reality?

foto dari kfk.kompas.com