Hanya Beda Nama (Meski sama-sama Manusia)

by Senjakala Adirata

Jalan kian panjang, tapak kaki makin meradang, air tak lagi singgah pada karang-karang. Dia, dengan kaki kecil, bibir mungil, tetap berlari meski tak secepat kancil. Kita, pada sebuah nama, pada sebuah pembeda, pada seikat harta, masih tetap tutup mata. Dia, dengan peluh, tempuh langkah jauh, masih tetap dengan kaos lusuh. Kita, dan nasi dan goreng cumi dan susu tak pernah basi, masih tak mau lihat diri. Dia, dengan canda, dengan tawa, dengan tetes mata, dan masih simpan asa, dengan perut hampa, hingga gerbang kumpulan pusara. Kita, pada dia, masih tetap menumpuk harta, tak pikir tanam jenazahnya, hanya karena kita tak tahu namanya.