Ketika Wasit Jadi Pemain

by Senjakala Adirata


Apa yang ada pada benak sobat pembaca tentang judul diatas? Pertandingan Bola, atau permainan lainnya yang membutuhkan wasit? Ketika wasit dalam pertandingan bola ikut bermain pada salah satu team yang bertanding, bisakah dijelaskan secara nalar? Atau setidaknya tidak ikut menendang tetapi “bermain”—dengan tanda kutip. (tahu kan maksud saya?)

Jujur, krupuKCair mencuri judul diatas dari sebuah stasiun televisi nasional, yakni Metrotv. Dan isi dari tulisan inipun tak jauh berbeda dengan pembahasan yang disiarkan oleh stasiun TV tersebut. Bukan tentang pertandingan bola atau pertandingan lain yang membutuhkan wasit, tapi masalah dalam negeri kita yang kian aneh2 saja. Tindak-tanduk para politikus kita itu lho, kok ada-ada saja. Entah sekedar mencari sensasi, entah sekedar menutupi kasus yang penting dengan masalah yang tidak penting, atau entah sekedar ngotot menge-goal-kan KEPENTINGAN pribadi. Yang jelas, tingkah para politikus Negara kita ini aneh2 saja.

Langsung ke INTI persoalan, wasit yang saya maksud disini adalah KPU. KPU dipercayakan menjadi wasit dalam pertandingan antar partai politik di Negara kita. Nah, anggota KPU, dimana menjadi wasit2 ini adalah orang yang harus dan wajib netral terhadap segala hasil pemilu tanpa pandang bulu layaknya wasit di lapangan. Tapi masalah muncul ketika ANDI NURPATI, anggota KPU yang belum selesai masa jabatannya, tiba2 bergabung ke partai Demokrat, partai besutan presiden kita sekarang. Ada apa di balik ini?

“Dugaan KPU tidak kedap intervensi itu dipenuhi oleh masuknya Andi Nurpati. Bisa berposisi di Demokrat, berarti ada investasi sebelumnya. Komisioner KPU banyak, kenapa Andi Nurpati yang dipilih?” kata Direktur Reform Institute, Yudi Latif, dalam perbincangan dengan detikcom, Minggu (20/6/2010). Lanjut Yudi dalam detik.com, “Ia mempunyai kewajiban dan disumpah untuk 5 tahun jabatan. Jabatan itu belum selsai, begitu saja ia tinggalkan dan masuk Partai Demokrat. Padahal orang yang antre masuk KPU itu banyak, mereka yang bersungguh-sungguh banyak. Dia menutup kesempatan orang-orang itu terpilih,”. Dan Yudi menutup, “Keterpilihan publik tidak dipertanggungjawabkan, artinya betul-betul haus jabatan,”.

Bagi para sobat pembaca sekalian, apa komentarnya. Seorang wasit yang kemudian ikut menjadi pemain dalam salah satu partai. Apakah hal ini adalah tindakan POLITIK BALAS BUDI? Itu hanya dugaan saya. Seseorang yang telah membantu kemudian mendapat imbalan, begituuuuuuuuuu. Akhirnya, saya persilahkan sobat pembaca yang menilai tentang tindak-tanduk para elite politik kita yang kayaknya kok hanya haus jabatan itu.