Menanti Hingga Mati

by Senjakala Adirata

Hal itu membuat menanti meski detik dan detik berjalan bersama deru angin. Duduk di bawah temaram rembulan pada sandaran pohon Mahoni dengan asma yang tak kunjung pergi. Lalu; kambuh!!!. Seperti tersedak, dada terangkat-angkat, hanya sendiri, dengan balutan mimipi berkhirnya sebuah penantian.