Terima Kasih Ayah

by Senjakala Adirata


Bekerja secara bergilir, seminggu masuk siang dan seminggu masuk malam dengan bayaran tujuh ribu rupiah sehari. Aku cukup bersyukur karena setidaknya tak lagi menjadi beban bagi keluarga meski bekerja dengan bayaran yang malah kurang, setidaknya tidak bergantung pada orang lain. Pada bulan kedua, naik seribu rupiah dan pada bulan ketika naik seribu rupiah lagi sehingga sehari Sembilan ribu rupiah. Semakin nyaman memang bekerja di sini, dengan teman2 yang enak diajak ngobrol dan baik hati.

Namun perjalanan hidup berubah ketika Ayahku, yang juga perantau memberi kabar padaku untuk menyusul beliau ke pulau seberang. Pulau yang ku tahu dari pelajaran sejarah, pulau yang dikenal dengan kekayaan Cengkih dan Palanya, Ternate. Akhir bulan setelah mendapat bayaran, aku kembali ke kampung dan siap2 menuju tambatan baru, yang mungkin memberi rejeki lebih.

Empat hari empat malam terapung-apung di lautan, sendirian tanpa ada orang yang Ku kenal. Beberapa orang malahan menjadi kawan baru selama perjalanan. Ombak yang besar menghempas kapal, mentari pagi yang senantiasa membuatku terpesona juga barisan lumba2 yang hampir tiap pagi Aku selalu terhibur tiap kali menontonnya. Akhirnya sampai juga aku di Pulau Ternate. Gamalama menjulang tinggi dan masih berapi. Penjemputan dilakukan langsung oleh Ayahku di pelabuhan Ahmad Yani Ternate. Dan selang satu hari, pekerjaanpun telah siap ku kerjakan. Membantu Ayah dan rombongannya melakukan finishing pada sebuah rumah salah satu pejabat lokal.

Belum cukup sebulan aku bekerja, pada suatu senja Ayah memanggil dan mengajakku berbicara. Antara ayah dan anak saja.
“Tahun ajaran baru akan segera dimulai. Kamu hanya lulusan Paket C, nanti susah cari kerja kalau nggak ngelanjutin. Jadi kayaknya lebih baik kamu kuliah. Kerja kasar biarlah Bapak, anak2 jangan sampai sama dengan Bapak” kata Beliau.

Aku terdiam. Dalam lubuk paling dalam, telah aku tegaskan bahwa aku tak kuliah pun tak apa. Mungkin karma telah terjadi padaku, seorang anak bandel nan nakalnya minta ampun. Meski saat SMK peringkat 10 besar tak pernah lepas, entah kenapa bisa tidak lulus. Itulah yang jadi keyakinanku, karma!!. Sering bolos, korupsi uang SPP, bohong minta uang dengan alasan beli buku dan bohong2 yang lain. Aku telah merasa berdosa dan ketidak lulusanku telah ku jadikan sebagai karma atas kenakalanku. Dan, aku telah berdosa pada orang tuaku serta telah membuat susah mereka. Sehingga aku telah bertekad meski tak kuliahpun tak apa.

“Kakak perempuanmu sarjana, Kakak laki-lakimu juga sekarang sudah semester enam, adikmu nanti juga sudah berencana akan kuliah, kamu apa nanti tidak iri dengan mereka?” kata Beliau ketika aku menjawab aku tidak kuliah juga tak apa.

Aku sungguh tak pernah berpikir sejauh itu, dan aku juga tak pernih berpikir nanti akan iri dengan mereka ketika mereka nanti menjadi “orang”. Inilah yang memang harus ku bayar atas tindakanku yang telah melampui batas. Ku anggap ini sebagai penebus dosaku. Selain itu, tulang punggung keluarga juga hanya Ayah. Kakak perempuanku telah berumah tangga, tentu telah sibuk dengan keluarganya. Membantu pun mungkin juga sebisanya. Ayah akan semakin susah memikirkan dana untuk biaya. Aku tak ingin kuliah karena Aku tak ingin terlalu menjadi beban.

Tapi Ayah terus mendesakku hingga Aku tak bisa apa2. Akhirnya, Kakakku yang telah kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri di Pulau ini, mengurus berkasku saat pendaftaran. Juga di Perguruan Tinggi yang sama. Hanya beda fakultas. Dan setelah pengumuman, aku lolos. Aku tak pernah mengira jika ijazah Paket C akan bisa tembus. Tapi papan pengumuman itu mencantumkan namaku yang berarti bulan depan Aku akan memasuki jenjang perkuliahan.

Pada sebuah sudut benteng peninggalan Portugis, aku menatap Pulau Tidore dan Maitara yang sebelumnya hanya ku lihat pada uang seribu rupiah. Aku merenung dan menangis,
“Ayah, rupanya bukan hanya Tuhan yang Pengampun, Engkau pun juga pemaaf dan tetap masih percaya bahwa Aku sanggup melewati jenjang satu ini. Dan aku berjanji tak akan mengulangi tindakan bodohku lagi. Akan ku coba menjadi orang yang membanggakan, bagimu, bagi keluarga, bagi bangsa dan bagi agama. Terima kasih Ayah, Engkau masih mempercayaiku”