Rupanya Tak Sederhana…..

by Senjakala Adirata

Sang nabi dari Lebanon, Kahlil Gibran, saya mengenalnya ketika saat duduk di bangku sekolah menengah atas. Lantunan dan gaya syairnya membuatku terbang melupakan daratan dan menghayalkan hal-hal yang luar biasa. Namun, harus saya akui, hingga kini tak banyak syair2nya yang saya pahami betul2. Karena apa? Entahlah. Sepertinya Kahlil mampu menyisipkan ruh dalam setiap baris kalimat syairnya.

Keterpesonaan saya pada Kahlil Gibran rupanya juga menghinggapi teman2 saya dan mereka juga bilang bahwa sulit memahami secara tuntas apa yang penyair itu sampaikan.

Dalam hal ini, saya ingin membicarakan tentang penulisan syair, puisi dan sejenisnya. Kita sebagai orang awam tentang kesusasteraan, ketika membaca puisi persepsi yang terbentuk adalah keindahan dan kedalaman makna. Namun ketika sulit memahami sebuah puisi maka kita kebanyakan akan berkata puisi itu tidak bagus. Dan ketika kita ingin menulis puisi pun sepertinya adalah hal yang mudah karena hanya terdiri dari sedikit baris. Tapi apa sobat tahu, semakin dalam makna puisi, semakin sulit diksi yang digunakan penyair untuk dicerna oleh pembaca?

Yupz, banyak penulis pemula yang menulis puisi dengan kata2 yang biasa digunakan untuk berkomunikasi sehari-hari. Dengan sedikit kreativitas, memadankan rima pada setiap baris dengan baris yang lain agar tetap berirama. Penggunaan bahasa yang biasa saja ini membuat pembaca mudah memahami apa yang ingin di sampaikan oleh sang pengarang. Tapi sebagai penulis pemula sering menggunakan bahasa yang biasa saja.

Merangkai kata menjadi puisi sejatinya tidak semudah yang dibayangkan. Kenapa puisi kebanyakan hanya terdiri dari beberapa baris saja, karena sesungguhnya dalam puisi itu adalah proses pemadatan makna dan maksud dari penulis sehingga puisi terkesan tulisan yang pendek tidak seperti cerpen atau novel. Semakin lihai penulis, semakin ia mampu memadatkan makna dalam sebaris kalimat. Bahkan dalam sebaris kalimat bias terjadi terdapat beberapa makna. Hal itu adalah sisi keunikan karya sastra dimana ia multi interpretable, multi interpretasi. Semua pembaca berhak menginterpretasi sesuai dengan pengalaman empirirs pembaca sehingga puisi sesuai dengan siapapun pembacanya. Jika puisi hanya barisan kalimat yang berisi pesan dari penulis tanpa berpikir makna2 yang lain maka puisi berkurang nilaianya.

Awalnya saya juga beranggapan bahwa menulis puisi itu sederhana, namun rupanya menurut beberapa dosen ia tak sesederhana yang kita bayangkan. Semakin padat kata yang digunakan, semakin banyak makna yang di selipkan, akan semakin banyak interpretasi mengenai puisi tersebut sehingga puisi tersebut nyaman bagi semua orang tanpa terhalang ras, suku, bahkan keyakinan. Dari situ saya mulai belajar meski hingga kini masih tetap merasa sulit untut menulis puisi yang benar2 berbobot dengan menggunakan bahasa tingkat tinggi. Sedikit kata, padat makna, banyak pesan dan nyaman serta berirama ketika dibaca juga mudah untuk diresapi.