Lupa

by Senjakala Adirata

Lupa dianggap oleh sebagian besar orang sebagai sifat yang negative. Apalagi bagi para pelajar, kebanyakan mereka mencoba untuk menghindari sifat yang satu ini. Tapi apa boleh buat, sifat ini sudah melekat pada diri kita dank arena lupa pula kita dianggap sebagai makhluk yang paling sempurna di alam dunia ini. Lupa juga sering membuat orang kalang kabut, menangis, tertawa, bingung dan entah rasa apa lagi. Karena itu banyak diantara kita mencoba mengasah daya ingat agar bisa terhindar dari lupa.

Pengalaman tentang lupa, saya pernah ketika dalam perjalanan dari Solo menuju rumah saya di daerah pinggiran Semarang, sampai di Salatiga saya istirahat untuk makan siang. Saya istirahat di lapangan Pancasila dan di sebelah utaranya berjajar kios yang menjajakan berbagai jenis jualan, dari buku, makanan, pakaian dan macam-macam lagi. Saat itu saya memilih untuk masuk ke rumah makan prasmanan dan memarkirkan motor saya di halaman parkir. Saya makan, istirahat sejenak lalu membayar makanan kemudian beranjak untuk segera pulang. Saat saya berjalan menuju tempat parkir, saya merogoh saku saya, mencari kunci motor. Namun, semua saku sudah saya jelajahi dan arungi, tak jua ketemu kunci motor tersebut. Bingung, takut, sedih dan kecewa saat itu bercampur baur tidak jelas. Saya dalam keadaan yang tidak jelas tersebut terus berjalan menuju tempat parker. Saya kembali mencoba mencari kunci di saku namun tetap tak ketemu. Saat saya kebingungan dan khawatir, eh si tukang Parkir malah ketawa senyam-senyum. Jelas aja saya heran dengan dia, namun tanpa berkata dia menuding tempat kunci saya di motor sambil kembali senyum-senyum dan geleng-geleng kepala saat melihat saya. Dan, plong rasanya ketika kunci saya masih terlihat dan tergantung di situ. Kontan saya bilang terima kasih dengan Om Parkir yang setia menjaga kunci dan motor saya. Yang lebih membuat saya bersyukur lagi, untung motor yang baru berumur dua bulan itu tidak hilang.

Pengalaman di atas, karena lupa sering membuat kita berbahaya. Tapi, rupanya dalam sifat lupa pula saya berterima kasih. Saya termasuk mudah menangis ketika sedih (cengeng) dan segera mencari tempat untuk menyendiri. Perasaan sedih ini, lebih menghebat ketika ada seseorang yang saya sayangi pergi untuk selamanya. Namun, karena lupa akhirnya saya tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Andaikan saya tidak memiliki sifat lupa, alangkah sangat berbahaya ketika orang yang saya sayangi pergi kemudian saya bersedih dan bersedih dan bersedih dan bersedih terus karena selalu saja ingat. Segala aktivitas akan terganggu karena kesedihan tersebut. Begitu pula ketika semua orang tidak memiliki rasa lupa, alangkah dunia ini telah penuh oleh manusia2 cerdas yang cerdasnya minta ampun dan saya bisa menjamin kiamat akan lebih cepat sebab pertarungan pasti akan terjadi. Senjata paling mutakhir akan mudah dibuat karena semua orang sudah cerdas.

Tapi yang aneh, kadang lupa sering di sengaja. Bagaimana mungkin? Lihat kasus Bank Century, ganti rugi lupur Lapindo yang tak kunjung tuntas, pengungsi Timor Leste yang terlunta-lunta dan mungkin juga kasus skandal video mesum mirirp artis juga akan segera cepat “dilupakan” dengan paksa.