Proses Atau Hasil Akhir?

by Senjakala Adirata


Pada sebuah kekhusuk-an ujian, krupuKCair juga mengikuti dengan takzim. Ujian dengan kata lain evaluasi menjadi standar paling besar dalam mempengaruhi nilai akhir mata kuliah (teorinya sih begitu). Namun, yang sering mengherankan adalah setiap ada ujian tengah semester atau akhir semester, barisan sobat kuliyah yang langganan mendapat nilai IP (Indeks Prestasi) 3 koma sekian, hampir seluruhnya berada pada barisan bangku belakang. Juga para sobat yang memegang handhone ber-genre smartphone sering menyelundupkan handphone dan duduk di barisan belakang pula. Ada apa dengan para sobatku ini?

Dalam kehidupan per-politikan kampus, memang dapat menjadi cerminan pada kehidupan per-politikan Negara. Oleh karena itu, segala teori pencarian masa dan penghasutan masa juga hampir sama. Kenapa? Karena mereka para politikus Negara juga lahir dari telur2 dunia kampus maka caranya pun hampir sama dan hanya sedikit yang diperbaharui. Anehnya, money politik seringkali terjadi. Lanjut lagi, propaganda pembunuhan karakter lawan politik dengan cara fitnah-memfitnah telah menjadi budaya yang selayaknya wajib dijalankan serta di halalkan. Mengapa?

Saat menonton pertandingan sepakbola Liga Champion dimana Internazionale Milan melawan FC Barcelona pada leg kedua, serasa ada yang beda dari permainan pada pertandingan leg pertama. Jose Mourinho sebagai sang Allenatore Intermilan, sepertinya lebih mementingkan bahwa Inter harus lolos dan masuk final serta diharapkan membawa trophy Liga Champion. Bola di kuasai penuh FC Barcelona namun tak jua mampu menembus benteng pertahanan Inter. Bahkan, terkesan hanya bermain setengah lapangan belaka. Permainan Inter saya nilai tidak bagus dan tidak indah.

Dari tiga ilustrasi real diatas, pertanyaan yang ingin saya tarik adalah “benarkah hasil akhir adalah tujuan terpenting dan bukan proses yang terpenting?” Pada hakikatnya saya tidak dapat memungkiri bahwa nilai IP pada proses perkuliahan adalah penting, perpolitikan untuk meraih masa hingga mendapat suara agar menang adalah penting, dan kemenangan pada sebuah pertandiangan adalah penting. Tapi sepenting apa hingga harus menghalalkan segala cara supaya hasil akhir sesuai dengan apa yang kita harap?

Jika harus dikatakan ironis, itulah adanya. Perasaan miris, itulah yang ada. Tapi apa boleh saya buat, ini menyangkut kepentingan individual dan golongan. Anehnya, pelajaran moral pancasila (bagi warga Indonesia) yang mengajarkan kepentingan umum (terkhusus konvensi peraturan moralitas) harus lebih didahulukan daripada kepentingan pribadi telah hampir terkikis oleh egoistis yang menabrak wiayah-wilayah terlarang. Proses seakan tidak menjadi agenda terpenting yang harus dipikirkan tetapi hasil akhirlah yang perlu di pusingkan.

Apa jadi? Sebagian besar generasi muda Indonesia berpola pikir pendek. Karena itu jalan pintas dipandang menjadi solusi special bagi tercapainya ambisi. Nyontek dan penyalahgunaan alat teknologi, fitnah dalam menghancurkan lawan politik agar dapat kursi kekuasaan, dan memenangkan pertandingan tanpa harus berpikir indah apa tidak sebuah permainan

Dalam sebuah proses, sabar dan ketekunan serta rajin menjadi tiga tangga yang harus dilewati secara tuntas. Hasil akhir yang menjadi harapan bagi kita, meski itu tidak tercapai, yang penting kita telah melalui jalan yang benar tanpa ada catatan merah dalam perjalanan tersebut. Biarpun kesempurnaan tak tercapai karena hasil akhir tak sesuai, namun itu bisa di coba kembali dan kemungkinan terperosok pada kesalahan yang pernah dilalui akan menjadi pelajaran berharga bagi orang-orang yang berakal.

Oleh karena itu, proses yang sesuai adalah tahapan hierarkis yang harus dilewati dan itu adalah hal terpenting. Hasil akhir bisa kita panen jika kita sabar, tekun dan rajin serta sedikit suntikan semangat. Doa pun jangan sampai ketinggalan bagi kita yang ber-Tuhan. Jika sobat pembaca, proses atau hasil akhir yang lebih penting?