Sastra dan Kemanusiaan

by Senjakala Adirata


Kemanusiaan kita kenal sebagai sesuatu yang universal. Sebuah asas yang tidak memerlukan pendeklarasian secara formal namun tetap diharapkan tercipta dan berkembang demi sebuah kesejahteraan. Kesejahteraan, adalah suatu cita bagi masyarakat seantero jagad. Betapapun pentingnya sebuah hasil yakni “kesejahteraan” namun tak pelak kita mesti lebih mementingkan prosesnya. Proses menuju “kesejahteraan” tersebut.

Kemanusiaan menyebrang dan menembus batas-batas geografis, warna kulit, perbedaan agama, lain suku serta lain bangsa. Kemanusiaan menjebol rintangan yang bernama jarak dan waktu bahkan strata social. Kemanusiaan bahkan tak terhalangi oleh kekuasaan yang kian menjadi sengketa pada akhir-akhir ini.

Kemanusiaan telah menjadi lahan bagi para sastrawan untuk terus menggali. Dari sisi kesengsaraan, kemiskinan, kesenjangan sosial, pertikaian saudara atau pertikaian antar suku, percintaan dan juga kasih sayang. Tak ayal lagi jikalau kemanusiaan adalah lahan yang luar biasa lebar dan dalam yang harus digarap dan digali oleh para sastrawan untuk menciptakan karya sastranya, yang tentunya berkualitas.

Bahasa yang menjadi medium sastra ada kalanya menjadi penghalang saat di tuntut untuk berbahasa yang komunikatif. Mengapa? Karena penggunaan bahasa dengan tingkat tinggi membuat para penikmat sastra yang awam akan sulit mencerna. Tapi, justru disitulah yang terkadang menjadi sudut special dari karya sastra. Para peniktmat sastra dituntut untuk berimprovisasi sesuai dengan kemampuannya dalam memahami sastra sehingga menjadikan karya lebih bersifat ‘demokratis’.

Karya sastra yang tercipta, selalu saja berkaitan dengan konteks social budayanya. Sastra tak kan pernah lahir begitu saja tanpa sebuah proses yang panjang. Pergulatan renungan dari sang sastrawan mengenai kondisi sekitarnya menjadikan karya sastra tak hanya sekedar bacaan selingan sebelum tidur tetapi justru memberikan pelajaran intropeksi dan renungan yang mendalam. Renungan terhadap apa makna di balik kehidupan ini.

Tentunya tema kemanusiaan yang mana karya sastra mengajak manusia untuk memanusiakan manusia lain sesuai hak dan kewajibannya, menjadikan karya sastra tak hanya lembaran kertas yang bertulis. Dalam penyampaian sastrawan kepada penikmat sastra, unsur untuk mengajak lebih menjadi manusia yang manusiawi adalah sebuah pengajaran yang tak hanya sekedar angin lalu. Namun pengajaran tersebut di tuntut untuk bisa di praktikkan oleh para pembaca. Selain itu, yang special dari sastra adalah didalamnya tidak diajarkan barisan teori yang membosankan tetapi menghibur. Sastra tak hanya sebuah bacaan pelajran yang membosankan tetapi juga pelajaran yang menghibur.