Saya Tidak Bisa Nulis!!! Maka…..

by Senjakala Adirata

Kalau dibilang saya itu linglung, mungkin ya. Kenapa, saya itu sebenarnya punya cita-cita mau jadi penulis. Penulis apalah yang penting Penulis asal bukan penulis yang tulisannya jelek secara aturan etika. Yang paling termotivasi dan berambisi sih penulis fiksi. Tapi saya tidak bisa menulis!

Jauh dari SD saya sudah diajari menulis, mungkin sekedar mencatat atau saat ada soal dari guru yang harus dijawan dengan tulisan. Menginjak bangku kuliah, saya tetap mencoba menulis tapi sering gagal di tengah jalan. Entah ceritanya tidak selesai, atau idenya ngadat di tengah jalan atau sebab yang lain.

Pernah sih, serius fokus pada ide dan menulis cerpen bisa selesai. Tapi pas mau nulis lagi, masalah klise berulang. Penyakit lama kambuh lagi begitu. Terus saya coba lagi, termotivasi dari beberapa buku mengenai cara menjadipenulis. Salah satunya seorang sastrawan bekas pramugari Garuda (namanya saya lupa) beliau dipuji oleh Maman Mahayana, dosen UI karena beliau menulis novel kalau tidak salah itu dalam setahun merampungkan novel 14 atau 13 saya lupa. Tapi yang pasti belasan. Jelas saya heran terus saya coba nulis lagi dan coba mempublikasikan dengan cara mengirim pada koran lokal. Eh, di muat.

Tapi setelah itu penyakitnya kmbuh lagi. Terus seorang dosen saya namanya Syahyunan Pora S.Fil cerita tentang blogging dan saya coba. Setelah sukse membuat blog, saya linglung dan selalu gonta-ganti tema juga membuat blog baru. Setiap membuat blog baru, ada semacam tekanan secara psikologis bagi diri saya untuk meng-update tulisan. Jadi saya termotivasi untuk terus meng-update dengan menulis hal baru dariide saya. Karena banyak blog yang saya buat, sekitar tujuh kok akhirnya malah ada semacam tuntutan dari blog saya untuk terus di update semuanya sehingga saya merasa kewalahan. Putus asa kemudian.

Saya mencoba membuat lagi dengan sedikit blog dan menghapus lainnya. Sekarang saya fokus hanya satu blog yakni www.adiratasenjakala.wordpress.com. Ya, akhirnya saya menulis meski masih acak-acakan. Dan, seperti sebelumnya, blog kelihatannya seperti memiliki jiwa untuk diberi makan. Makananya ya, di update alias membuat tulisan. Terakhir, saya berterima kasih dengan adanya blog ini karena memberi kesempatan untuk mengasah kemampuan menulis. Selain itu dapat teman meski hanya teman dalam dunia virtual. Jadi banyak untungnya kok nge-blog itu.