Kelahiran Pancasila dan Kondisi Indonesia Kini

by Senjakala Adirata

Pancasila sudah tak asing lagi bagi warga Indonesia bahkan dunia. Kini, 1 Juni 2010 Pancasila telah berusia 66 tahun. Yap, Pancasila lahir pada tanggal 1 Juni 1945 dan menjadi ideologi negera kita tercinta, Indonesia.

Sang Founding Father negara kita merumuskan Pancasila begitu hebatnya. Bahkan bisa dibilang, Konsep Pancasila benar-benar menembus waktu. Mungkin karena Pancasila dijadikan sebagai Ideologi, maka dibuat tak lekang oleh zaman.

Masih ingat ketika saya masih di Sekolah Dasar, mendapatkan mata pelajaran PPKn atau sebelumnya disebut PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Masih banyak juga hal-hal yang bisa saya ingat dari pelajaran ini. Tak bisa dipungkiri, konsep PMP benar-benar luar biasa karena menginginkan manusia Indonesia yang hampir sempurna secara bathin. Bertuhan, Humanisme, Bersatu dalam satu Negara, Musyawarah untuk mufakat dan Berkeadilan Sosial, itu intinya yang menjadi sila-sila dalam Pancasila. Juga pengajaran untuk tidak berbangga berlebihan terhadap negara sendiri dan menganggap negara lain rendah (chauvenisme).

Lapang dada, rendah hati, saling menolong, gotong royong dan segudang pengajaran moral yang bijak di caritakan dalam konsep PMP. Namun ironisnya kini, apa yang dapat kita lihat dari pada konsep tersebut? Sepertinya konsep itu hanya menjadi sebuah formalitas dan praktinya nol BESAR.

Setelah reformasi pada 1997, mahasiswa dan rakyat yang kecewa berat atas konsep Pancasila ini, dimana konsep tersebut tidak memberikan sesosok profil yang bisa dijadikan panutan yang mana profil tersebut mempraktikkan Pancasila dalam hidupnya, seakan tak lagi begitu terlalu mementingkan konsep Pendidikan MOral Pancasila. Harus diakui, sadar atau tidak, kini masyarakat kita seperti lepas dari pakemnya. Egoisme, keserakahan, korupsi, nepotisme yang mustahil hilang, ke-uang-an (bukan keTuhanan) yang maha esa, main hakim sendiri dan berbagai penyakit masyarakat lain. Banyak pemuda atau masyarakat yang hafal sila pancasila, tetapi praktik dan pemahamannya diabaikan.

Secara pribadi, ada kerinduan untuk seperti dulu dalam segi moralitas. Kesopan-santunan, dermawan, lapang dada, gotong royong dan lain-lain. Ada yang hilang dalam diri masyarakat kita pasca reformasi yang belum seutuhnya di reformasi ini. Dominasi akal dan menganggap bahwa yang tak bisa diterima akal tak bisa dipakai, menjadi sebuah kecelakaan pemikiran yang tak disadari oleh masyarakat kita khususnya pelajar dan akademisi.

Pancasila, sebagai dasar negara, Ideologi bangsa, seharusnya menjadi pemersatu seluruh rakyat Indonesia. Kerusakan moral dari mulai pejabat hingga pemulung telah begitu menggejala. Sikap apatis (cuek) atas kesejahteraan rakyat juga kian kuat pula. Sudah selayaknya ruh Pancasila harus “disehatkan” kembali. Apalagi untuk kaum pemuda-pemudi, yang notabene sebagai generasi penerus, harus sadar akan hal ini. Kembalikan nasionalisme kita tanpa mengurangi kepercayaan kita terhadap agama sehingga moralitas tetap terjaga.