Sepak Bola dan Nasionalisme

by Senjakala Adirata

Gila bola memang menjadi trend tersendiri pada masyarakat industri lanjut sekarang ini. Bahkan, tak sekedar di jadikan hobi tetapi lifestyle tersendiri. Apalagi ketika event bola terakbar di dunia yakni Piala Dunia seperti saat ini, penggila bola bingung berburu pernak-pernik team kesayangannya. Dari mulai kaos, bendera, slayer dan entah apalagi. Bahkan tak urung gambar-gambar bendera terpampang besar-besar di tembok-tembok perkotaan sebagai satu jenis lukisan mural.

Tak ada masalah dengan gandrung terhadap sepak bola dan team sepak bola. Itu malah menjadi ke-kompleks-an hidup. Lini kehidupan menjadi lebih berwarna. Ada juga yang mengatakan bahwa sepak bola bisa dijadikan bahasa pemersatu antar bangsa di dunia.

Tapi kayaknya perlu kajian ulang mengenai “sepak bola sebagai bahasa pemersatu”. Di negeri kita, Indonesia kisruh setelah pertandingan sepak bola menjadi budaya negatif yang sepertinya malah di budayakan. Kerugian material akibat kekisruhan ini begitu luar biasa, bahkan juga sampai kehilangan nyawa. Sportifitas di negeri ini masih jauh panggang dari api.

Hubungan sepak bola dengan nasionalisme?

Ketika kita gandrung dengan bola dan team kesayangan kita, untuk level dalam negeri, masih perlu di tilik ulang nasionalismenya. Kenapa? Pemahaman akan nasionalisme adalah mau hidup dan berbaur meski bebeda suku dan etnis serta agama untuk tetap mencintai negara. hal ini dalam praktiknya masih jauh dari harapan. Jika memiliki rasa nasionalisme, maka kekisruhan seharusnya tak perlu terjadi. Konsep sportifitas tak lebih sempurna daripada nasionalisme. Sportifitas biasanya dimaknai lebih sempit, hanya dalam pertandingan yang berlangsung. Tetapi jika nasionalisme, kita merasa saling memiliki antara satu sama lain dalam konteks yang tak hanya dalam pertandingan tetapi di segala lini aktivitas kita.

Pada tingkat level dunia, nasionalisme kita benar-benar di pertanyakan. Kegandrungan yang terlalu terhadap team kesayangan yang notabene ada negara atau team yang berada pada negara yang pernah menjajah kita, hal ini mengikis rasa nasionalisme kita. Dahulu kita dijajah fisik kita tetapi kini dengan istilah neo-kolonialisme, kita secara tidak langsung dijajah karena kita telah tergantung sebab kegandrungan kita terhadap negara yang pernah menjajah kita. Bendera negara yang bukan negara kita, kita pajang dengan bangganya di dalam kamar, di depan rumah dan di jalan-jalan. Selebihnya pernak-pernik team yang kita gandrungi, kita kenakan pada setiap tubuh seperti kaos dan topi. Juga aksesoris seperti tas, bandul tas, kaoskaki, sepatu, sampul buku dan lain-lain.

Bukan berarti melarang nge-fans dengan team atau negara luar, tetapi hal ini kayaknya perlu untuk sedikitnya disaring dan dipertimbangkan dengan rasa nasionalisme kita yang sedikit demi sedikit tercukur.