Demokrasi Indonesia: Menggali Kuburnya Sendiri

by Senjakala Adirata

Kelihatannya berlebihan memang ketika saya menulis judul diatas. Namun, sejenak saya merenung, massa rakyat kok makin lama makin muak dengan segala jenis pemilihan baik kepaladaerah bahkan kepala kampung. Ada sebuah dampak sosiologis yang negatif yang dengan pelan disadari oleh masa rakyat kita. Beberapa diantaranya adalah, hanya demi membela tokoh yang tak dikenal sebelumnya, tetangga rumah yang tak lebih berjarak satu jengkal dan telah bertahun-tahun bertetangga, cekcok dan adu mulut. Secara nilai moral yang telah menjadi konvensi pada masyarakat yang bersangkutan, hal tersebut tidaklah elok atau tidak afdhal.

Hal yang selanjutnya perlu menjadi catatan adalah, meski di perkampungan yang jauh dari perkotaan, dimana akses pendidikan rendah serta semangat untuk berpendidikan secara formal rendah pula, namun mereka kian lama jua kian bosan. Dalam lima tahun terkadang di kampung mereka terjadi lebih dari pada 5 kali pemilihan. Dari pemilihan kepala dusun, kepala desa, bupati, gubernur dan presiden tersebut, banyak yang menerima lembar uang yang tak seberapa jumlahnya dari team sukses sang calon. Lalu karena fanatik kemudian cekcok dengan tetangga karena berbeda pilihan. Akhirnya mereka masyarakat perkampungan yang mana menjunjung nilai moral dan masih menjaga local wisdom dengan pelan kian sadar bahwa mereka dipecundangi oleh sebuah sistem yang bernama demokrasi.

Nilai-nilai yang mereka junjung dahulu hingga kini dan dianggap sebagai sebuah pakem untuk hidup dinamis nan seimbang tercoreng dengan membiasakan bertindak “modern” hasut-menghasut dan fitnah-memfitnah antara tetangga bahkan saudara kandung sendiri.

Demokrasi yang secara literal diartikal dari, oleh dan untuk rakyat, toh nyatanya tidak. Coba saja kita renungi, “orang-orang pintar” yang berpolitik baik itu yang amatir maupun profesional memiliki kepentingan bagi diri, kampungnya, partainya dan koleganya serta lainnya. Hal itu rupanya sang “orang-orang pintar” ini ingin mendapat sebuah tampuk kursi jabatan sebagai bagian dari penguasa dimana secara sosiologis yang namanya penguasa berarti dengan mudah dapat melicinkan segala kepentingan yang ia inginkan. Maka tak ayal mereka menggelontorkan uang untuk dana kampanye dimana uang tersebut untuk biaya memperkenalkan diri dan untuk membiayai para penghasut. Bahkan janji jika terpilih, tiap desa di beri sekian ratus juta (uang neneknya apa). Para penghasut yang dibayar oleh sang calon kemudian bekerja menghasut ke setiap lini kampung hingga kampung terpencil. Rakyat termakan hasutan apalagi yang berpendidikan rendah akan mudah. Selanjutnya pada hari H rakyat memilih dan calon yang terpilih membuat program yang berbingkai pro rakyat. Selanjutnya program yang hanya bingkai tersebut sebenarnya dalam pelaksanaanya yang butuh dukungan dari berbagai pihak maka sang terpilih bekerjasama kepada para pemodal yang telah membantu. Maka dalam siklus ini rakyat hanya dijadikan objek eksploitasi. Penguasa danpemilik modal adalah “pemiik sah” demokrasi.

Kita analisis secara sederhana, Orang kampanye mempromosikan dirinya kemudian menggelontorkan uang untuk memilihnya, setelah terpilih rakyat menjadi objek pelengkap bukan utama. Demokrasi Indonesia adalah dari penguasa, oleh penguasa dan untuk penguasa. Rakyat kian sadar bahwa mereka di bohongi, dipecundangi, diinjak-injak atas nama “demokrasi” yang didengungkan oleh “oarang-orang pintar” dan kacung-kacung penghasurnya itu.

Demokrasi Indonesia menggali kuburnya sendiri. Ia kan mati seiring kejenuhan rakyat yang kian muak dengan segala pemilihan pemimpin yang mengatas namakan “pluralisme”. Rakyat kian bosan dan terbukti kini rakyat semakin cuek dan acuh dengan beberapa event pilkada. Golput menjadi sebuah trend bahkan lifestyle. Ketika orang-orang atau para mahasiswa ditanya tentang jalur politiknya kemana, mereka kini cenderung menjawab dengan senyum acuh dan nyinyir.

Begitulah! Semoga ada sebuah bentuk pemilihan pemimpin bukan pemilihan untuk mendapatkan penguasa. Yang lebih arif dan bijak tentunya. Maju terus Indonesia!!!!!