Virtualitas VS Realitas

by Senjakala Adirata

Sampai dimana batas dunia maya, siapa yang mampu menjawabnya. Dalam dunia maya (virtual) tidak ada batasan geografis layaknya dunia nyata. Dunia inilah yang mungkin dimaksud dengan global village dimana manusia dari seluruh penjuru dunia bisa berkomunikasi tanpa harus berpikir luasnya samudra dan jajaran pegunungan yang menjadi penghalang. Di dunia ini pula bermilyar informasi tersaji tiap detiknya dari milyaran manusia. Mengenai apapun, bahkan untuk hal yang tabu sekalipun untuk dibicarakan, didunia ini bebas untuk di keluarkan dan ditampilkan.

Telah banyak yang mengatakan bahwa dunia virtual bak pisau bermata dua. Hal ini memang seperti demikian karena di satu sisi, ia menghadirkan infomasi yang penting serta bermanfaat namun di sisi lain dunia virtual hampir tidak mengenal standar moralitas dalam penampilannya. Dunia virtual pun tidak pernah memaksa pada anak berusia lima tahun untuk tidak melihat hal-hal yang tabu. Semua orang dari berbagai kalangan dan berbagai umur berhak untuk menyelami dunia virtual sesuai dengan yang mereka inginkan.

Karena bebasnya orang untuk mengakses serta karena dunia virtual tidak memiliki standar moralitas, implikasinya adalah orang yang mengakses dalam dunia virtual ini terkadang juga berimbas pada kehidupan sosialnya dalam dunia nyata. Bergaul secara bebas tanpa ada batasan seperti layaknya dalam dunia virtual. Hanya saja dalam dunia virtual, apa yang namanya kenikmatan dan kepuasan jarang sekali di dapatkan dan hanya dalam dunia nyata saja hal tersebut ada. Sehingga, terlalu seringnya seseorang mengakses dunia virtual yang berbau pornografi, biasa berdampak pada dunia nyata karena ketidak puasan yang ia dapatkan di dunia virtual maka ia lampiaskan pada dunia nyata.

Lalu bagaimana kita menyikapinya? Rupanya, hal yang paling penting adalah diri kita. Bukan berarti hal ini mendorong orang untuk memunculkan dan menonjolkan sisi egoisitas, melainkan karena kontrol tersebut ada pada diri. Dunia virtual itu jelas beda dengan dunia nyata, begitu pun berbagai konvensi yang terbentuk seperti tatakrama dan sopan santun sertta etika. Jika dalam dunia nyata, hal tersebut diatur dan disepakati dan di dunia virtual hal tersebut tidak ada, maka jjangan dipraktekkan pergaulan dunia virtual dalam dunia nyata. Harap menjadi maklum.