Kepercayaan Sebagai Pondasi Membangun Dunia

by Senjakala Adirata

Kini, kenapa orang semakin sulit untuk percaya dengan orang lain. Bahkan kepada teman atau sahabat yang senantiasa telah berkawan selama tahunan. Mungkin, rasa percaya masih sedikit banyak dimiliki terhadap orang yang paling dekat, misal kepada pasangan hidup atau keluarga, tetapi untuk orang lain yang bahkan mungkin masih asing hal tersebut sulit di dapat.

Perlu diingat, sebuah rasa yang namanya cinta, sumber utamanya sebagai pondasi adalah rasa percaya. Jika pondasi tersebut runtuh dan hancur, maka cinta tak kan mungkin pernah ada. Akan sangat sulit orang memiliki rasa cinta, setidaknya minimal, jika setiap bertemu dengan orang yang belum kenal terdapat rasa curiga. Padahal, tidak bisa dipungkiri bahwa cinta memiliki kekuatan yang maha dahsyat dalam hidup dan menjalani kehidupan.

Rasa curiga berimbas kepada berburuk sangka. Suatu hal yang tidak harus ada ketika baru mengenal orang lain. Proses sosialisasi akan terhambat jika perasaan awal adalah curiga dan buruk sangka. Kegagalan proses sosialisasi ini berakibat memunculkan sisi egoisitas sehingga semakin berjalannya waktu, jika semua orang berasumsi curiga dan buruk sangka, maka yakinlah bahwa ketika tetangga sakit, tidak ada urusan bagi tetangga lainnya untuk melakukan pesta. Karean rasa egoisme dan acuh yang telah menjalar bak virus mematikan.

Memang, sebuah kewaspadaan adalah suatu hal yang harus. Tetapi, jika setiap bertemu dan berkenalan dengan orang lain kemudian rasa curiga itu muncul hingga berlanjut kepada buruk sangka, maka apa jadinya dunia jika diselimuti dengan sense of egoism yang tinggi?

Rupa-rupanya jika ditilik lebih jauh kenapa orang kini sulit untuk percaya dengan orang lain, salah satu sumbernya adalah kebohongan. Ya! penyakit satu ini yang telah merusak sendi-sendi pergaulan. Kebohongan yang telah menjalar pada setiap orang, mengakibatkan efek ketidak percayaan pada orang yang telah dibohongi sehingga mengakibatkan orang tersebut trauma. Dan, tiap kali bertemu dengan orang yang entah berjenis kelamin, ras, pekerjaan, suku, orang yang pernah membohonginya, maka trauma tersebut muncul. Curiga dan buruk sangka akan hadir dalam perasaan si orang tersebut.

Hal ini sebenarnya harus diminamilisis agar kehidupan dunia yang lebih dinamis dapat berjalan secara baik. Kecurigaan yang berlebih akan mendistorsi perasaan cinta yang bisa membangun dunia ini dengan segala juta warna keindahannya karena pondasi yang bernama kepercayaan akan sulit terbangun.