Koreksi Proses Pendidikan

by Senjakala Adirata

Memang tak dapat dipungkiri bahwa pendidikan adalah salah satu sektor paling penting dalam sebuah negara. Peradaban umat manusia di pertaruhkan di lembah yang bernama ‘pendidikan’. Pada lembah ini, para generasi manusia di godog dan di asah tentang ilmu dan pengetahuan yang bermanfaat untuk dapat mencipta kemajuan peradaban yang tak hanya maju namun juga beradab.

Dalam lembah untuk memproses para generasi menusia tersebut, ada berbagai tahap yakni melakukan proses belajar-mengajar, latihan dan ulangan serta evaluasi. Pada proses belajar-mengajar, sejatinya harus ada sebuah transformasi ilmu pengetahuan dari pendidik kepada anak didik. Hal ini tak hanya sebatas kejar materi kurikulum tetapi dituntut bagaimana anak didik paham dengan ilmu dan pengetahuan yang ditransfer. Latihan dan ulangan di galakkan manakala beberapa sub-materi telah ditransfer pada tahap pendek agar pendidik mampu melihat sejauh mana sesuatu yang ditransfer tersebut mampu diterima oleh sang anak didik. Terakhir adalah evaluasi. Pada tahap ini, adalah tahap pungkasan. Seluruh materi yang telah ditransfer oleh para pendidik, secara garis besar diujikan kepada anak didik.


Menjadi ironi, bahwa ketika proses belajar-mengajar dan sang pendidik berhalangan untuk bertatap muka, maka materi tertunda. Hal ini berakibat pendidik melakukan kebut materi dengan mengesampingkan aspek apakah anak didik paham atau tidak. Lalu, pada hasil ulangan dan latihan jarang para pendidik yang sadar ketika anak didiknya mendapat nilai buruk. hal ini harus ada intropeksi, apakah anak didik yang memang bodoh atau pendidiknya yang bodoh? Sebagai anak didik, mereka mencoba memahami apa yang disampaikan tetapi jika tidak paham berarti pendidiklah yang salah dalam menyampaikan proses transfer tersebut. Maka selanjutnya pendidik mestinya melakukan cara lain dalam proses transfer ilmu dan pengetahuan tersebut. Evaluasi menjadi titik didih. Keputusan seperti lulus atau tidak, naik kelas atau tidak di tentukan disini.

Menyesalkan sekali pada tahap evaluasi ini seperti menyimpan aura aneh dimana anak didik banyak yang mengalami ketakutan. Entah apa sebenarnya permasalahannya. Saking takutnya, entah karena tendensi dari berbagai kalangan berbagai carapun dilakukan. Bahkan cara-cara kotor yang tak layak dipraktekkan oleh orang-orang berpendidikan. Anak didik seperti melupakan esensi dari proses pendidikan. Anak didik yang sebenarnya cukup dituntut untuk mengerti dan paham materi, kini melenceng. Kelulusan dengan standar tertentu yang mana standar tersebut dianggap standar dimana anak didik mancapai pemahaman adalah suatu kesalahan fatal. Anak didik hanya terobsesi dan bertujuan bagaimana mendapat nilai diatas standar tersebut tanpa harus berpikir apakah paham atau tidak. Maka dari itu, cara-cara kotorpun dilakukan. masalah seperti ini harusnya tidak dianggap sepele.