Quo Vadis Indonesia Kita

by Senjakala Adirata

Dari mana akan dibicarakan hal ini, sendiri juga bingung. Maka dari itu saya ingin berbagi pada sahabat yang sudi mampir dan rela meluangkan waktunya dalam lembar-lembar byte data pada dunia maya (virtual).

Kita, memiliki sebuah negara yang katanya kaya. Tapi entah kenapa juga hutang kita sundul sampai ke langit. Jurang pemisah pada penduduk yang berdomisili di negara kita terlihat sangat lebar sekali. Persepsi yang saat ini melekat adalah pejabat pasti kaya. Bagaimana tidak? Gaji pokok, tunjangan ini dan itu, rumah dinas, kendaraan dinas yang bahkan ada yang mencapai satu milyard lebih harganya, juga berbagai ongkos perjalanan kalau-kalau pergi “rapat” atau “kunjungan”.

Hal ini kemudian memotivasi para massa rakyat untuk berpikir bagaimana bisa hidup yang kelihatannya “enak” seperti para pejabat. Lebih-lebih yang telah mengais ilmu hingga jenjang perguruan tinggi. Kondisi atmosfer kampus yang menghidupinya terdapat berbagai jalan untuk menembus ambisi sesuai dengan orientasinya. Tidak bisa dipungkiri, banyak sahabat-sahabat yang berorganisasi tahu bagaimana jalan menjadi pejabat. Entah awalnya dengan menjilat, atau memang melakukan struggle dengan caranya sendiri, melobi kanan-kiri, berpolitik praktis sejak dini.


Sayang sungguh sayang, politik yang juga diartikan sebagai ilmu untuk menyejahterakan rakyat menjadi sebuah pisau bermata dua. Kini sebaliknya politik malah menjadi sebuah ilmu untuk meraih kekuasaan dan menindas rakyat. Seorang politikus hanya berambisi mendapatkan suara agar bisa jadi pejabat dan kemudian nanti bisa mendapat kekayaan yang melimpah. Berbagai cara pun dilakukan.

Gelora dan semangat untuk meraih suara begitu membahana. Kampanye dengan berbagai karung dana di gelontorkan. Jikalau, para politikus kita sebagian besar sadar akan moralitas spiritual pasti lebih baik menyalurkan dana kampanye tersebut untuk hal yang lebih berguna. Seperti mendirikan usaha kecil atau menengah sehingga hal tersebut bisa mengurangi pengangguran dan kemiskinan. Namun, hal inilah yang lenyap di balik laju percepatan masyarakat pasca industrialis. Dimana orang berusaha untuk eksis dan dianggap ada. Salah satunya popularitas. Dengan menjadi pejabat maka setidaknya akan dikenal luas oleh masyarakat.

Hal lain yang sangat disayangkan dari para politikus adalah permainan kotornya. Dari mulai memberikan “bantuan”, “sumbangan”, atau malah ada yang melakukan rencana dengan mengadakan pengajian akbar lalu diselipi oleh kampanye. Benar-benar memalukan. Bantuan dan Sumbangan tersebut acap kali tidak murni dan tulus ikhlas. Ada harap dari para politikus agar pihak yang di bantu dan di sumbang membalas budi.

Sungguh sampai kapan negera kita akan seperti ini. Terombang-ambing pada ketidakpastian. yang diharapkan dari para ‘orang pintar’ dan para akademikus sebenarnya memberikan pendidikan politik yang benar terhadap masyarakat. Tapi malah generasi muda asyik-masyuk dengan politik praktis dan tentunya demi kepentingan pribadi.

Hal apa yang mesti dilakukan? Menanti cahaya kesadaran pada lorong yang tak berujung? Ataukah diam dengan segala keadaan yang oenuh hipokrit dengan konsekwensi kita semakin awut-awutan? Atau melakukan Revolusi secara serentak pada setiap lini? Atau hanya berdoa dan pasrah terhadap kehendak Tuhan? Inilah yang ingin saya harap dari para pembaca yang budiman agar kita juga sejenak saja berpikir “Quo Vadis Indonesia Kita”. mau dibawa kemana Indonesia kita ini…