Agenda Kaum Intelektual

by Senjakala Adirata

Kemajuan teknologi yang melaju bak anak panah lepas dari busurnya, memang banyak yang mengkhawatirkan. Hal itu dikarenakan telah banyak dampak modernisme yang didominasi oleh alat teknologi yang kemudian teknologi yang diciptakan oleh manusia, bak menggali lubang kuburnya sendiri.

Modernisme yang dibawa oleh negara-negara maju, memberikan product2 teknologi yang meringankan beban manusia. Namun, perlu di ingat bahwa rupanya ‘meringankan’ tersebut justru berdampak pa ‘kecanduan’ dan bergantung pada teknologi dari pada usaha sendiri. Bagi negara2 terbelakang, yang menerima saja apa yang diberikan oleh negara maju, membuat negara terbelakang semakin tergantung dan terus menerus kecanduan. Apalagi kemudian negara berkemabang dalam melakukan ekspansi ekonominya perideologikan hasrat kapitalistik disertai unsur-unsur penjajahan terselubung.

Kita, masyarakat Indonesia pada masa industrialisasi lanjut ini memang telah banyak yang mencoba mengoptimalkan kemampuan sendiri untuk mencipta teknologi terbaru made in sendiri. Hal itu karena terdapat semangat untuk survive dalam berkompetisi di tingkat dunia. Namun, ini hanya menjadi coretan-coretan kecil di tengah naskah raksasa kaum kapitalis yang bekerjasama sengan para kolonialis pribumi. Masyarakat awam apalagi yang kurang pendidikan, orientasinya hanya terbatas pada materi. Ini dibuktikan pada masa industri lanjut, masyarkat pedesaan dan pinggiran tetap saja mengidolakan perkotaan sebagai ujung tombak mendapatkan rejeki dan bekerja sebagai buruh.

Bahkan asumsi masyarakat pedesaan dan pinggiran yang ‘kalau belum merantau belum berpengalaman’ masih banyak yang memegangnya. Ini menjadi suatu keprihatinan tersendiri. Apalagi orang kampung yang memiliki dana untuk melanjutkan pendidikan di kota, dan setelah selesai malah tidak kembali ke kampung dan mengabdi. Tetapi justru lebih senang berkiprah di kota dengan hingar-bingarnya. Edannya lagi, kemudian termotivasi menjadi politikus dan kembali ke kampung hanya minta ‘doa restu’ dan dukungan suara, setelah itu minggat lagi ke kota dan tetap membiarkan kampungnya terlunta-lunta.

Ilmu pengetahuan sebagai alat untuk membangun sebuah peradaban, dengan terciptanya berbagai produk pikir dan produk teknologi, sepertinya memang hanya dimiliki oleh orang yang berduit. Meski sekarang banyak pihak luar negeri yang memberikan beasiswa, namun rupanya para anak negeri yang dapat beasiswa, otaknya tercuci. Ide-ide liar dari Barat yang tidak disaring, dimuntahkan dan disebarkan begitu saja di dalam negeri sehingga terjadi kemelut perang pikir kebudayaan.

Inilah yang menjadi titik pertimbangan, bahwa jika memang prestise yang terbentuk di masyarakat adalah bahwa berlajar di luar negeri adalah hal yang luar biasa, tetapi sebagai manusia khususnya anak negeri seharusnya memiliki ciri dan identitas yang harus bisa dijadikan pembeda. Hal ini agar kita tidak di cap sebagai ‘negara’ yang hanya mampu mengekor saja. Produk pikir dari Barat harus disesuaikan dengan budaya bangsa.

Inipun juga harus dikampanyekan hingga ke pelosok-pelosok agar masyarakat yang minim pendidikan bisa paham dan tetap menjaga orisinalitas budayanya. Kini yang kita lihat, banyak anak-anak kecil yang lebih sibuk dengan tv-nya dan hp-nya ketimbang melakukan sosialisasi dengan teman sebaya. bahkan banyak anak-anak muda yang minim pendidikan dengan bangga ngikut apa yang ditampilkan di media tanpa berpikir akan budaya yang sudah terwariskan secara turun temurun. Kesadaran ini seharusnya menjadi agenda besar bagi para intelektual yang entah telah lulus dari manca atau pun dari domestik. Sehingga kita tetap dapat menjaga budaya tanpa harus ketinggalan zaman dengan budaya-budaya yang baru. Atau bahkan kita bisa melakukan inovasi dengan melakukan difusi antara budaya asing yang baik dengan budaya bangsa yang tetap menjadi ciri khas identitas sebagai bangsa.