Inferiority Complex

by Senjakala Adirata


Pada dasarnya manusia adalah makhluk dua dimensi. Dimensi yang pertama adalah dimensi jasmani (raga) dan dimensi yang kedua adalah dimensi jiwa (ruh)/ Dua dimensi inilah yang tergabung dan menjadi sebuah struktur hingga bisa disebut sebagai manusia. Manurut Al-Ghazali, al-nafs (jiwa) dan al-jism (raga) adalah dua substansi yang bertentangan. Namun keduanya saling berhubunan hingga membentuk suatu realitas yang bernama manusia. Raga dan Jiwa dalam kajian ilmu pengetahuan memiliki ladang yang berbeda-beda. Raga digali oleh fisiologi sedangkan jiwa digali oleh psikologi. Pada judul diatas, inferiority complexs adalah salah satu wacana dalam bidang psikoanalisis, bagian dari psikologi.

Manusia terlahir berbeda dengan yang lain. Perbedaan itulah yang menjadi identitas bagi manusia tersebut. Perbedaan yang terjadi bisa dalam bentuk fisik atau dalam bentuk karakter/watak. Watak/karakter pada manusia yang berbeda-beda tersebut, seiring dengan jalannya perkembangan waktu dan berjalannya kehidupan, dipengaruhi oleh kondisi lingkungan seperti keluarga dan kondisi lingkungan masyarakat.

Inferiority Complexs adalah salah satu bentuk kelainan atau bolehlah dikatakan sebuah penyimpangan dalam hal jiwa. Namun kelainan tersebut tidak terlalu berpengaruh pada kadar kesadaran seseorang. Hanya saja jika inferiority complexs tersebut menjangkiti seseorang, orang tersebut jadi sedikit atau bahkan banyak terhalang untuk melakukan sebuah proses sosialisasi/interaksi secara baik.

Menurut urban dictionary.com, inferiority complexs adalah :
“the perception that one is inferior compared to others. Usually developing from conflict between the desire to be noticed and the fear of being humiliated”

Definisi tersebut menitikl beratkan pada perkembangan dari konflik hasrat yang bersumber dari jiwa-dan dilakukan pada kondisi hidup sehingga membuat seseorang tersebut merasa rendah dibanding dengan orang lain. Sedangkan menurut healthcare.com: “is concept we are all familiar with chances are you or someone you know suffers from this complex. Those with low self esteem are more likely to have feeling of resenment, alienation and unhappiness.
Pada definisei tersebut seseorang memandang dirinya dengan pernghargaan yang rendah. Hal itu karena tekanan dari lingkungan hingga menyebabkan depresi atau seseorang merasa kondisi dirinya membenci keadaan yang ia hadapim terasing dan tidak bahagia terhadap sekelilingnya. Palagi pada lingkungan yang baru.

Dapat disimpulkan bahwa inferiority complexs adalah perasaan pada diri seseorang dimana seseorang tersebut merasa rendah (inferior) terhadap orang lain. Hal ini menyebabkan seseorang tersebut minder dalam bergaul dan dalam menjalani aktivitas kehidupannya.

Penyebab inferiority complexs dapatlah dikelompokan menjadi tiga aspek. Yanng pertama aspek fisik, yang kedua aspek latar belakang ekonomi, dan yang terakhir aspek kemampuan intelektual.

Aspek yang pertama adalah fisik. telah dikatakan diatas bahwa fisik dan ruh itu memiliki hubungan antara satu dengan yang lain. Fisik berpengaruh seseorang terjangkit inferiority complexs dikarenakana lahir dalam keadaan memiliki kekurangan atau -maaf- cacat fisik. Hal ini berakibat seseorang merasa rendah terhadap yang lain. Apalagi persepsi yang terbentuk di masyarakat adalah yang sempurna adalah yang layak untuk tetap hidup dan bertahan di bumi. Seakan-akan memandang orang -maaf-cacat sebagai orang yang tak pantas. Hal ini akan kian menjadi tekanan bagi si penderita. Orang-orang terdekat harus sering mengajak ngobrol dan membuatnya sadar bahwa dalam kekurangan tersebut ada lagi yang lain yang berharga dan bisa di tampilkan.

Yang kedua adalah latar belakang ekonomi. Hal ini, saat manusia hidup pada era postmodern dimana semua orang orientasinya terhadap hal-hal yang berbau matrealistis, bagi orang-orang masyarakat kelas bawah akan tertekan. Produk2 kapitalis terbaru hadir dan dipamerkan di media dengan model artis cantik dan cakep yang terkenal. Bagi kalangan berduit, mengikuti apa yang berkembang di media adalah “gaul” sedangkan bagi masyarakat bawah punya keinginan untuk hal tersebut (gaul) namun tidak memiliki kemampuan dalam bidang ekonomi. Jadi misalnya fashion yang berpengaruh pada penampilan, orang yang memiliki latar belakang ekonomi bawah akan minder jika bergaul dengan orang-orang yang mampu ber-fashion dengan model terbaru. Hal ini juga dapat menyebabkan terjadinya inferiority complexs.

Aspek yang ketiga adalah kemampuan intelektual. Jika down syndrome mungkin juga bisa dikelompokkan disini namun downsyndrome memiliki ciri yang lebih spesifik lagi dari pada inferiority complex. Seseorang yang ketika mengenyam pendidikan dan selalu saja mendapatkan nilai dibawah rata2, biasanya juga gampang terjangkit inferiority complexs. Meski sejatinya bahwa orang tersebut sebenarnya bisa namun daya tangkapnya saja yang kurang cepat seperti teman2 lainnya. Sehingga nilai yang terus ia dapatkan selalu saja jelek, ditambah lagi mendapat cercaan dari teman2nya dan lebih parah dimarahi oleh orang tuanya. Hal ini sebenarnya tidak boleh terjadi dan orang yang paling dekat dengan dia, khususnya orang tua harus membimbing. Apalagi masih kecil atau dalam bangku dasar.

Inferiority Complex memang kelihatan sepele. Mungkin hanya akan berakibat orang yang terjangkit susah bergaul dan minder. Selalu merasa rendah. Namun hal tersebut jika kemudian mendapatkan pretensi-pretensi dari lingkungan sekitar bisa jadi depresi kemudian merasa asing dan mengasingkan diri. Bahkan yang lebih fatal, seseorang tersebut mengakhiri hidupnya sendiri (bunuh diri) karena merasa rendah, hina dan tidak berguna lagi untuk hidup.