Santet Para Penyair

by Senjakala Adirata

Adalah bahasa menjadi sebuah anugrah semilir bagi umat manusia yang senantiasa menyejukkan tiap kali ada uneg-uneg yangingin disampaikan. Begitupun bahasa adalah sebuah tombak yang dapat menghunjam pada jantung-jantung dihadapannya ketika si pengeluar bahasa sedang emosi dan meluapkan kata-kata cercaan. Adalah juga bahasa sebagai santet para penyair untuk meneluh para kaum politikus dan penguasa yang hipokrit, juga menyihir berbagai umat dengan berbagai warna kulit untuk melongo ketika dihadapkan pada untaian santet kemanusiaan yang kian terkikis.

Bahasa, sebagai sebuah sarana penghantar kemauan manusia, seperti teknologi yang tercipta. Ia ada dengan konvensi masyarakat dimana kehadirannya adalah tergantung dengan penggunanya. oleh karena itu, manusia sebagai yang memproduk kemudian melakukan konvensi, maka bahasa hanya pasrah bagaimana ia nantinya akan dibentuk. hal inilah yang kemudian mambuat manusia dengan hawa nafsu kemudia sering menggunakan bahasa sebagai alat untuk berbuat kejahatan seperti berbohong dan memfitnah.

Penyair, menggunakan bahasa sebagai sarana juga. Dalam pembuatan sebuah karya, semestinya penyair memiliki tujuan dan dedikasi kepada siapa untaian bahasa itu ditujukan. kata-kata yang dihadirkan pun tidak formal melainkan dipilih dengan ketelititan untuk menghasilkan kemegahan dan keluwesan berbahasa. Namun sering kali kemegahan, keindahan dan keluwesan berbahasa para penyair ini, menyimpan belati yang tajam dan sanggup memporak-porandakan ideologi msyarakat. Inilah kemampuan sang panyair yang tak hanya bersyair namun menghadirkan santet dalam syairnya. Santet tersebut bisa digunakan untuk protes terhadap kondisi sosial yang timpang.

Tak jarang santet tersebut melukai para penguasa yang zalim hingga sang pembawa santet pun di berangus bersama hasil-hasil tulisan santetnya. Tak jarang pula sang penyair dipenjara, dibuang di gantung agar ia tak lagi membuat santet-santet yang bisa mengakibatkan luka dan sakit pada penguasa yang zalim tersebut.

Itulah para penyair, sering konsekwensi yang ia tanggung begitu berat. Nyawanya ia gadaikan kepada kebenaran kalimat santetnya yang mengandung sihir-sihir luar biasa.