Ah, Waktu!

by Senjakala Adirata

Terlalu banyak kejadian yang terjadi baik itu penting dan dicatat atau tak penting dan tak dicatat di dunia ini. Adapula yang tak penting tapi di catat dan yang penting tapi tidak dicatat. Kejadian yang terlewat dan tersangkut di buritan perahu waktu tersebut, banyak memberikan pelajaran bagi orang-orang yang berakal. Dan jika kejadian tersebut menyangkut diri kita, maka kita juga hanya mampu mengenang atau mencatatnya. Kadang kita menyesal ketika saat itu melakukan kesalahan namun juga dilain pihak kita senang saat waktu itu kita melakukan ssesuatu hal yang sangat berguna. Dan itu menjadi kenangan yang tak bisa untuk diulang kembali.

Begitulah sang waktu yang terus menetes dalam cawan kehidupan. Kita tak mampu melawannya dan kita hanya berpasrah hidup dalam selimutnya. Itulah mengapa kemudian secara pribadi saya teringat akan perkataan salah seorang yang sangat airf dan bijak bahkan bisa dikatakan mulia diantara para manusia di dunia ini. “Jika hari ini lebih buruk dari kemarin adalah celaka, jika hari ini sama dengan kemarin adalah rugi dan jika hari ini lebih baik dari kemarin adalah beruntung” mungkin demikian kurang lebih perkataan dari Muhammad bin Abdullah, Sang Rasul terakhir.

Dari perkataan bijak tersebut, kita layak bangun dari tidur secepatnya dan segera menjadi orang yang prestatif. setidaknya berusaha. Dalam hal apapun yang menurut “pagar-pagar” tidak melewatinya. Dalam hal ekonomi, kemampuan intelektual dan juga dalam dimensi ruhani, yakni ibadah. Perkataan bijak tersebut seharusnya dan selayaknya dijadikan dapur pacu bagi kita untuk menjadi orang yang memiliki etos kerja wah dengan diimbangi kemampuan spiritualitas yang gerr!!. Kita menjadi sosok makhluk dua dimensi yang benar-benar akan sangat menghargai waktu yang begitu mahalnya dengan mempraktikan perkataan tersebut diatas.

Waktu yang berlalu dan menyisakan kenangan kejadian baik itu prihatin atau kebanggaan biarlah dicatat oleh lembar-lembar sejarah. Dan jangan biarkan lembar sejarah tersebut usang berdebu. Meski kita wajib berterima kasih karena diberikan sifat lupa (kalau nggak lupa kita pasti akan berduka dan duka itu berlarut ketika orang yang kita cintai meninggal misalnya orang tua), namun kita diberi akal dan menorehkan catatan tersebut dalam sejarah agar kita bisa belajar dan mencoba untuk menjadi lebih baik di hari ini dan esok.

Ah, Waktu. Dia terus berjalan maju membawa kita menuju dunia entah yang hanya mampu kita kira-kira. Dia terus maju dan maju menggelinding tak istirahat. Tinggal bagaimana kita ikut dengannya dan menghargainya dengan berbuat hal-hal yang berguna.