Sastra dan Generasi Muda

by Senjakala Adirata


Berbicara sastra adalah berbicara realitas. Berbicara realitas, tidak bisa mengesampingkan dari generasi-generasi muda. Sebab, merekalah yang dipercaya sebagai penerus dan pemegang tongkat estafet selanjutnya untuk menjaga dunia ini. Namun, keberadaan sastra pada masa post-medernisme ini seperti hanya sebagai ornament belaka dalam kehidupan. Muda-mudi yang diharapkan sebagai pelopor baru, lebih suka terhadap hal-hal yang pragmatis. Dan kebanyakan memandang sastra hanya sebagai rajutan kalimat penghibur yang tidak memiliki power apapun dalam membangun pribadi khususnya, dan bangsa pada umumnya.

Idealnya, sastra merupakan unsur yang sangat penting dalam kehidupan. Mengapa demikian? Karena sastra mampu memberikan wajah-wajah manusiawi, unsur-unsur keindahan, keselarasan, keseimbangan, irama dan sublimasi dalam setiap gerak kehidupan manusia dalam menciptakan (ke)budaya(an). Dan apabila realitas ini tercerabut dari akar kehidupan manusia, tak bisa dibayangkan, manusia tak lebih dari sekadar hewan (yang berakal).
Untuk itulah sastra harus ada dan diberadakan.

Sastra kita (sastra Indonesia) sedang menggema. Terutama sastra yang mengusung nilai-nilai keagamaan. Mereka mewabah, merebak, dan kehadirannya cukup menghapus dahaga-dahaga keilmuan. Keberadaannya mampu menjadi tandingan bacaan-bacaan lain yang kontraproduktif kalau di baca atau di konsumsi oleh khalayak (Azzah Zain Al-Hasany:2007).

Ironisnya, gebrakan ini tidak dibarengi dengan kualitas. Bahkan menurut Helvy Tiana Rosa yang di kenal sebagai pioneer FLP (Forum Lingkar Pena), mereka terlampau bersemangat dengan sastra agama, yang karya-karyanya terkesan hanya seperti buku agama. Mendidik tapi belum menghibur. Hakikat sastra yang dulce et utile belum terlaksana. Permainan bahasa dan pengolahan kata belum mampu mencapai estetika yang tinggi. Akhirnya, kualitas karya sastra masih diragukan.

Kehadiran sastra sesungguhnya mampu bersanding dengan ilmu-ilmu lain. Bahka lewat sastra, ilmu akan mudah diserap oleh pembaca, terkhusus pelajar. Karena sastra selain sebagai refleksi evaluatif pengarang atas problem sosial yang terjadi di sekitarnya. Karya sastra juga dipandang sebagai representasi kegelisahan sosio-kultural pengarang dalam memaknai simpang siur peristiwa yang terjadi dalam kehidupan umat manusia (Maman S. Mahayana, 2004).

Namun ironis memang. Buat kita, bangsa Indonesia, khususnya daerah Timur, sastra masih saja terpinggirkan. Marginal. Dalam dunia pendidikan misalnya, sastra saat ini hanya masih sekadar hafalan belaka. Siswa atau mahasiswa hanya menghafal sinopsis roman atau novel seperti Azab dan Sengsara, Layar Terkembang, Belenggu, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk dan lain sebagainya. Juga nama-nama seperti Merari Siregar, Asrul Sani, Chairil Anwar, Sitor Situmorang, Sutardji C. Bahri, Hamka dan sebagainya : namun karena hanya “dipaksa” atau “terpaksa” menghafal jikalau nanti keluar waktu ujian.

Perlu diketahui bahwa sastra dapat membuat seseorang peka terhadap fakta yang terjadi dalam masyarakat, membentuk kepribadian dan menghaluskan perasaan. Terbitnya novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata, membuat mata kita terbuka akan pendidikan masyarakat pedalaman, jurang perbedaan si kaya dan si miskin yang begitu lebar, diskriminasi dan sebuah kewajiban yang kemudian banyak dilalaikan oleh para penuntut ilmu setelah selesai menuntut ilmu: kembali ke kampung halaman dan mendidik masyarakat yang masih terbelakang !.

Belajar sastra bisa dijadikan pijakan untuk mengkaji kehidupan. Di dalam karya sastra termuat nilai-nilai akhlak, moral, filsafat, budaya, politik, ekonomi, sosial dan pendidikan. Sastra juga berguna dalam meningkatkan kepekaan rasa dan memberikan hiburan. Bukan bagi dunia pendidikan namun masyarakat secara umum, keberadaan sastra tidak kalah pentingnya.
Prihatin memang ketika melihat generasi muda kini. Arus globalisasi yang menggelinding tak tertahankan menabrak jiwa-jiwa yang masih hijau yang memerlukan bimbingan. Meski Pemerintah berkampanye untuk kembali kepada kearifan lokal dan cinta terhadap produk dalam negeri serta pendidikan untuk meningkatkan taraf hidup, malah sebagian besar tingkah dan pola-laku para pejabat kita ke Barat-Baratan. Dari segi penampilan saja, mereka lebih suka dan bangga ketika apa yang mereka kenakan adalah produk Manca. Lebih dari itu, berbagai produk makanan instan yang bukan ciri khas lokal, tampat parkiran dimana produk instan tersebut tersedia, penuh dengan mobil-mobil berplat merah. Generasi muda tidak memiliki profil sebagai contoh karena apa yang diperlihatkan oleh kaum birokratis yang sering melakukan kampanye cinta produk dalam negeri malahan lebih condong borjuis dan elitis serta ke-Barat-Barat-an. Akhirnya keinginan untuk hidup secara glamouris dan hedonis tumbuh subur dalam jiwa-jiwa generasi muda yang jiwanya kian kritis karena terkikis habis oleh apa yang disebut modernis dalam tubuh globalisasi.

Generasi muda selayaknya memiliki pikiran yang cemerlang, perasan yang peka, semangat menciptakan inovasi, kehalusan budi dan kecakapan sains. Tidak hanya mampu mengekor budaya orang lain. Dalam hal ini, sastra selayaknya hadir dalam setiap hati generasi muda. Karena sastra dapat memperhalus jiwa dan memberikan motivasi kepada masyarakat untuk berpikir dan berbuat demi pengembangan dirinya dan masyarakat serta mendorong munculnya kepedulian, keterbukaan, dan partisipasi masyarakat dalam pembangunan. Sastra mendorong orang untuk menerapkan moral yang baik dan luhur dalam kehidupan dan menyadarkan manusia akan tugas dan kewajibannya sebagai makhluk Tuhan, makhluk sosial dan memiliki kepribadian yang luhur.