Konon nama pada manusia adalah doa. Sebuah pengharapan kepada Yang Maha Kuasa atas pribadi agar sesuai dengan nama yang diberikan. Namun seiring derap langkah hidup yang dijalani, hal demikian tidak selamanya seperti apa yang diharapkan. Kadang kala atau bahkan seringkali, sebuah doa pada nama tersebut tidak sesuai dengan pribadinya.
Hal itu disebabkan karena sebuah berkah yang bernama lupa. Lupa telah menjadi sifat yang sangat spesial bagi pribadi manusia. Ketika manusia tidak memiliki sifat lupa—kataDedi Mizwar—apa kata dunia? Dunia akan dipenuhi oleh manusia-manusia yang cerdasnya minta ampun. Selain itu, manusia juga akan cepat musnah. Apa sebab?
Bagaimana jadinya ketika sebuah musibah menimpa manusia dan manusia tersebut tidak bisa lupa dengan hal itu? Maka kesedihan yang berlarut-larut akan terus-menerus menghantui manusia. Nama seorang yang dikasihi dan telah meninggal akan menjadi sebuah momok tesendiri karena tidak bisa dilupakan.
Ketika nama adalah doa, dan pribadi yang memiliki nama tersebut tidak sesuai dengan doa-nya, maka hal itu sebab ia lupa. Lupa akan sebuah simbol yang telah dilekatkan pada dirinya. Ia tak lagi ingat pada pengharapan (nama) agar dirinya sesuai dengan namanya.
Manusia sebagai homo symbolic, selalu hidup dengan simbol-simbol. Nama, sebagai salah satu symbol pun telah begitu sangat berpengaruh bagi manusia sendiri. Seorang manusia dengan manusia lain, akan lebih mudah memangggilnya dengan namanya. Akan sulit jika seorang memanggil yang lain dengan cara seperti ini: “hai orang yang kurus dan berambut lurus!” sedangkan di dunia ini terlalu banyak orang yang kurus dan berambut lurus. Maka, nama menjadi symbol untuk memudahkan manusia. Begitupun dengan nama-nama lain selain manusia, nama dijadikan sebuah simbol penanda pada sesuatu yang dinamai agar memudahkan hidup manusia untuk mengenalnya.
Nama, Kepopuleran dan Hilangnya Jati Diri
Sebagai suatu symbol penanda untuk mempermudah memberikan tanda, nama kemudian melewati batas-batas tersebut. Nama yang diketahui dan dikenal akhirnya memotivasi individu untuk dikenal dan diketahui. Konon, hal ini agar dianggap eksis dalam dunia per-kemanusian.
Baik individu yang berambisi untuk dikenal oleh individu lain ataupun individu yang terkenal karena kebaikan ataupun kejelekannya, hal ini sekiranya menjadi cerminan bagi individu lainnya. Banyak yang kemudian memberikan nama pada anaknya dengan nama sosok individu yang terkenal dengan keshalehan atau kebaikannya. Tak jarang pula yang menyematkan nama orang yang diidolakan di dalam baris namanya.
Kepopuleran ini mempengaruhi individu lain, bahkan tidak hanya dari namanya tetapi juga tingkah dan pola hidup. Proses mengidolakan seseorang tersebut akhirnya sering merubah gaya hidup sang pengidola. Masih untuk ketika yang diidolakan adalah orang yang baik, tetapi kalau tidak? Ia kemudian membudidayakan budaya meng-ekor. Mengikuti orang lain yang diidolakan, sehingga keberadaan dirinya terasingkan entah kemana. Seorang pengidola yang fanatik dengan yang diidolakan tersebut akan kehilangan sisi human-nya untuk menjadi diri sendiri dan dehumanisasi terjadi.
Atas Nama Tuhan, Kami Menjadi Penjagal
Konflik antar manusia untuk saling mendominasi satu dengan yang lain telah mengakibatkan pembantaian yang menodai nilai-nilai kemanusiaan. Isu yang paling santer adalah, konflik antar agama. Konflik ini turut andil mengukir sejarah kehidupan per-kemanusiaan.
Sekitar tahun 1998 hingga 2000, Poso, Ambon, Ternate menjadi ladang kurusetra. Disana manusia saling membunuh satu dengan yang lain atas nama Tuhan mereka. Mereka seakan mengikhlaskan diri untuk menjadi sang pembantai bagi individu lain hanya karena perbedaan keyakinan.
Terjadi sebuah proses yang secara sederhana—mungkin—seperti ini. Individu terlahir memiliki nama, kemudian atas tingkah lakunya ia terkenal dan bahkan menjadi ikon dan dicontoh. Selanjutnya ia menjadi orang yang berpengaruh pada golongan tertentu. Dengan kata-katanya (doktrin), maka yang terpengaruh akan menurut dan membenarkan yang dikatakan. Hal ini kemudian berakibat fatal.
Tahun 1905, Paus Urban II mengirim pasukan untuk merebut Yerussalem. Dalam perjalanannya, mereka sebenarnya tidak hanya bertujuan untuk merebut kota suci dimaksud dari tangan kaum Muslim, tetapi mereka juga “membantai” kaum Yahudi dan Kristen Orthodoks. Pasukan tersebut kemudian dinamakan Pasukan Salib dan perang yang terjadi dinamakan Perang Salib.
Konflik itu berkepanjangan hingga Perang Salib ketujuh—kalau tidak salah. Ratusan ribu bahkan jutaaan nyawa meninggal. Para petarung dari pihak Kristen maupun Islam memiliki semangat yang sama, yakni “Atas Nama Tuhan, Kami Berperang”. Pertanyaan kemudian, “apakah Tuhan memang perlu untuk di bela?”


30 komentar
Pengumpan komentar untuk artikel ini
Februari 4, 2011 pada 4:55 am
briyudistira
Permasalahan yang menlanda yakni sebenarnya satu “Kurang adanya Kepercayaan Akan Sang Pencipta!” sehingga membuat segala sesuatu menjadi kacau.
“Salam”
Februari 4, 2011 pada 2:32 pm
Mbah Jiwo
tulsiane berat
Februari 5, 2011 pada 5:07 am
napi
wah, intinya saya harus mempertanggungjawabkan nama yang sudah saya dapatkan,
nafi’ abdul hakim, akan saya realisasikan makna dari nama itu
Februari 5, 2011 pada 11:44 am
orange float
iya juga ya, kalo manusia tak ada yang lupa malah repot sendiri.
Februari 5, 2011 pada 12:08 pm
ais ariani
Tuhan tidak perlu di bela, karena kan Dia Maha Segala, bukan begitu?
namun yang terjadi adalah entah ini kesalahpahaman atau memang sejatinya benar; keyakinan akan Tuhan itu lah yang di bela.
kalau nyatanya Tuhan itu memang satu. yang mana yang mereka bela?
PS: kata mamah, namaku gak ada artinya loh mas
Februari 5, 2011 pada 3:26 pm
hanyanulis
Nama. simbolik dan pluralitas erat kaitannya dengan pola pandang dan paradigma dalam menilai seseorang..bisa itu dari segi etnis, budaya atau bangsa…..
Februari 5, 2011 pada 3:41 pm
mamung
bagian terakhir yang paling ngeri, orang2 saling membunuh mengatasnamakan Tuhan..
mudah2an kerusuhan2 tidak terjadi lagi
khususnya di ambon, mudah2an tetep aman dan damai..
Februari 6, 2011 pada 12:30 am
Hariez
senada dengan mamung dan saya sedikit meinding perihal bagian terakhir dari pertanyaan, “apakah Tuhan memang perlu untuk di bela?” itu yang akan menjadi polemik jika meluas ke setiap keyakinan, karena semua akan sama-sama mengatas namakan Tuhan
salam hangat
Februari 6, 2011 pada 10:13 am
'Ne
masalah nama mungkin ada benarnya, ketika orang tua memberi nama pada anak2nya disertai doa dan pengharapan..
tentang pertanyaanmu, Apakah Tuhan perlu di bela? hmm.. jika kita yakin bahwa Tuhan maha segalanya kenapa lantas kita sok jagoan membelanya?
jadi saya sepakat dengan komentar Ais Ariani
Februari 7, 2011 pada 6:02 am
gerhanacoklat
TUhan tak perlu membela karena keMahaannya ia lebih mampu melakukan apapun yang tak terpikir oleh manusia
Februari 7, 2011 pada 6:09 am
darmantomuat
tulisannya benar2 serem,,, dari kurangnya memaknai nama hingga siapa kah yang hendak dibela dalam peperangan..
saya setuju dengan: semua komentator di atas saya…
semoga memberikan pencerahan kepada kita semua.. dan tetap YAKINI APA YANG MENJADI KEYAKINAN KITA JIKA KITA MUSLIM…
Februari 7, 2011 pada 8:56 am
fitr4y
menggunakan Tuhan sebagai alasan utk ego masing2 …
salam
Februari 7, 2011 pada 9:24 am
Mila
AllahuAkbar,,,,
hanya Allah tempat berserah diri
Februari 7, 2011 pada 2:38 pm
teguhsasmitosdp1
Mungkin ini juga akibat dari kemiskinan akhlak ya,….subhanallah. semoga tidak akan terjadi lagi pertikaian.
Februari 8, 2011 pada 4:35 pm
bluethunderheart
keren postnya
salam hangat dari blue
Februari 9, 2011 pada 2:00 am
achoey el haris
Salam persohiblogan
Maaf baru nongol lagi nih di dunia penuh warna
Pertanyaan di akhir cukup menggelitik
Namun saya terlalu awam untuk menjawabnya
Februari 13, 2011 pada 4:43 am
nymph34
humm..tulisan yang sangat menarikk.. berat bacanyaa..
Februari 16, 2011 pada 12:29 am
bangauputih
tulisan yang berat dan dalam.
pa kabar nih mas, maaf lama baru bw ksini
Februari 22, 2011 pada 9:25 pm
mamung
temanya ganti ya, jadi terang benderang
i like it..
Februari 28, 2011 pada 9:44 am
ibnu
membicarakan masalah agama, apalagi konflik antar agama merupakan sesuatu hal yg sangat sensitif, jujur saya kurang berani menyatakan pendapat mengenai konflik antar agama dsb. takut menyinggung yg lain jg, buat catatan saja saya yakin dalam setiap agama mengajarkan cinta akan sesamanya
Maret 6, 2011 pada 3:33 pm
kang ian dot com
mantull.. nama adalah sebuah deretan hurup untuk dituliskan di batu nisan
Maret 20, 2011 pada 4:47 pm
Insanitis
Kali pertama berkunjung ke blog krupukcair ini. Seperti biasa: nyasar dari Google. Kali ini tersesat melalui jalur “diksi”. Langsung saya bookmark. Izinkan…
April 1, 2011 pada 10:32 am
Batu
kalo kata Shakespeare, “apalah arti sebuah nama”
kalo kata saya, “nama itu penting”
ada orang yg betul2 berjuang dengan tujuan membela Tuhannya (agamanya), namun ada juga yang mengatas namakan Tuhan dalam hal membela kepentingan pribadinya….
April 5, 2011 pada 7:19 am
gerhanacoklat
setuju sama Batu
April 11, 2011 pada 11:50 pm
yanrmhd
“kelak kalian akan dikumpulkan dipadang mahsyar dan dipanggil dengan nama kalian, maka berilah nama yang baik..”
ke egoan melampau batasan hilang kemanusiaan..semoga makin banyak manusia yang arif dan bijaksana, agar kedamaian bisa terjaga…
semangat! do the best, bismillah..
April 18, 2011 pada 2:46 am
uraeka
Mari kita berdoa agar setiap orang menjadi orang yang sesuai dengan namanya. Dimulai dari orang Indonesia.
April 21, 2011 pada 8:04 am
Rama
Apakah tuhan perlu dibela?
pertanyaan yg sulit untuk dijawab,
bisa-bisa masuknya ke filsafat..
Mei 18, 2011 pada 3:25 pm
tutorial blogging
keren neh..
Agustus 29, 2011 pada 6:01 am
iwanresa
saya ingat kata Gus Dur “Tuhan tidak perlu dibela”. Sekilas, berkesan melecehkanNya. Tapi jika kita simak mengandung pengertian bhw Tuhan adalah sumber segala kebenaran hakiki. Manusia makhluk yg lemah dan terbatas ini, pelajari saja Tuhan sesuai kapasitas mikir dan imannya. Yang Islam ya secara Islam, yg Kristen ya secara Kristen. Toh kebenarannya akan berujung pd satu kesimpulan juga. Dlm satu film yg dibintangi Chrsitopher lambert, ada satu dialog menarik : “Islam, Kristen, Yahudi,..satu sumber yang sama, Tuhan yang sama, berperang satu sama lain selama berabad-abad..” Kalimat yg bikin saya trenyuh, dan menyesali kenapa kita harus slalu mengklaim kebenaran jadi milik kita sendiri serta menafikan yg lain
Oktober 6, 2011 pada 7:27 am
you_nita28yun
nama yang berat bikin anak sakit2an…