Pentingnya Diksi Dalam Puisi

by Senjakala Adirata

Diksi atau pilihan kata menjadi satu hal yang pokok bagi seorang penulis atau sastrawan dalam membuat karyanya. Dengan pilihan kata yang se-irama dengan nada perasaan si Penulis, berbagai selip semangat dan gairah mampu di munculkan dengan berbagai varian yang luar biasa. Dalam kondisi sedih, rindu, dendam, bersemangat, kasmaran dan mungkin juga campuran berbagai rasa.

Pemilihan kata yang secara tidak langsung berhubungan dengan konteks sosio-kultural si Penulis, terkadang memberikan warna yang unik dalam karyanya. Misal dengan munculnya beberapa patah kata lokal yang sulit dipadankan dengan lingua franca daerah penulis, menjadikan lebih berwarna meski hal tersebut setidaknya ‘menodai’.

Kenapa ‘menodai’ dengan tanda kutip, karena ada yang beranggapan jika menghadirkan kata lokal dalam karya yang bertujuan universal, maka terkesan cenderung egoistis memunculkan ke-suku-annya. Tetapi di sisi lain hal ini memang tak bisa dipungkiri akan memberikan warna dan ciri yang khas dalam varian karya sastra.

Selanjutnya, hal yang paling menitikberatkan pada diksi adalah pembuatan puisi. Begitu sakralnya puisi, terkadang sastrawan atau penulis akan terus menyempurnakan sebuah puisi dalam beberapa hari atau bahkan bulan. Hanya untuk Satu puisi!!!. Hal ini dikarenakan sang penulis atau Sastrawan menginginkan suatu hal yang luar biasa selain juga terbaru dalam racikan rangkaian kalimatnya.

Terkadang menjadi ironi ketika pembaca atau penikmat sastra khususnya puisi beranggapan sederhana dalam proses kelahiran puisi. Contoh, hanya karena puisi yang dibaca terdiri dari dua baris saja. Padahal, dalam baris tersebut sungguh tersimpan makna yang berlipat jika memang mau mendalaminya. Namun seringkali disalahpahami oleh pembaca yang awam tentang dunia Persastra-an atau per-puisi-an. Hal ini berakibat, pembaca yang juga tertarik ingin menulis puisi mengesampingkan dalamnya makna pada proses uji coba pembuatan puisinya. Terlihat misalnya diksi dari penulis/sastrawan ‘coba-coba’ ini yang terkesan apa adanya tanpa ada pemilihan kata yang serius. Alhasil karya yang dihasilkanpun terkesan biasa saja. Kata-kata yang dirajut dalam karyanya ditampilkan dengan kata yang biasa dikomunikasikan dalam bahasa sehari-hari. Tak ada yang spesial sekaligus menantang untuk menggali makna dalam karya tersebut sehingga terjadi desakralisasi makna.

Hal tersebut bisa ditepis jikalau penulis/sastrawan ‘coba-coba’ ini kemudian giat mendalami per-puisi-an. Ini akan menjadi bobot puisinya lebih berbobot lagi. Namun jika tidak, maka proses desakralisasi tidak hanya terjadi pada makna tetapi juga pada tubuh puisi secara keseluruhan.

About these ads